Sekolah, kuliah & skripsi

Apa Itu Plagiarisme? Pengertian, Jenis, dan Contohnya

Tim Editorial AdeptWriteDiperbarui 8 menit baca

Plagiarisme (plagiat) adalah mengambil karya atau gagasan orang lain lalu menyajikannya seolah-olah milik sendiri, tanpa menyebut sumber secara tepat. Menyalin kata demi kata, menulis ulang dengan susunan yang nyaris sama, menerjemahkan tanpa kredit, dan memakai ulang tulisan sendiri tanpa sitasi termasuk di dalamnya. Panduan ini menjelaskan jenis, contoh, aturan, dan cara menghindarinya.

Jawaban singkat: apa itu plagiarisme?

Plagiarisme, dalam bahasa sehari-hari disebut plagiat, adalah perbuatan mengambil karya, kalimat, data, atau gagasan orang lain dan menampilkannya seolah-olah hasil pikiran sendiri. Kuncinya ada pada dua hal: ada bagian yang berasal dari orang lain, dan sumbernya tidak disebut secara tepat. Kalau sumbernya disebut dengan benar dan kutipannya jelas, itu bukan plagiarisme, melainkan cara kerja ilmiah yang normal.

Plagiarisme tidak selalu berarti niat menipu. Mahasiswa yang lupa memberi tanda kutip pada satu kalimat, atau menyalin catatan dari internet tanpa mencatat alamatnya, tetap bisa disebut melakukan plagiat. Karena itu kebiasaan mencatat sumber sejak awal jauh lebih berguna daripada memperbaiki di menit terakhir.

Apa kata aturan di Indonesia?

Rujukan resmi yang berlaku untuk perguruan tinggi adalah Peraturan Menteri Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi Nomor 39 Tahun 2021 tentang Integritas Akademik dalam Menghasilkan Karya Ilmiah. Cocokkan dengan teks resminya di situs JDIH kementerian pendidikan, karena kampusmu bisa mengacu pada versi yang telah diperbarui. Beberapa hal pentingnya:

  • Peraturan ini menyebut enam jenis pelanggaran integritas akademik: fabrikasi, falsifikasi, plagiat, kepengarangan yang tidak sah, konflik kepentingan, dan pengajuan jamak.
  • Peraturan ini menjelaskan plagiat sebagai tiga perbuatan: (a) mengambil sebagian atau seluruh karya milik orang lain tanpa menyebut sumber secara tepat; (b) menulis ulang tanpa menggunakan bahasa sendiri sebagian atau seluruh karya milik orang lain walaupun menyebut sumber; dan (c) mengambil sebagian atau seluruh karya atau gagasan milik sendiri yang telah diterbitkan tanpa menyebut sumber secara tepat.
  • Peraturan ini mencantumkan sanksi administratif untuk mahasiswa, dari pengurangan nilai atas karya ilmiah sampai pemberhentian dari status mahasiswa dan pembatalan ijazah. Perguruan tinggi menetapkan tata cara penjatuhan sanksinya sendiri.
  • Peraturan ini menggantikan Permendiknas Nomor 17 Tahun 2010 tentang Pencegahan dan Penanggulangan Plagiat di Perguruan Tinggi. Jadi jika kamu menemukan buku panduan lama yang masih menyebut aturan 2010 itu, rujuk aturan 2021.

Butir (b) sering mengejutkan. Menyebut sumber saja tidak cukup kalau kalimatnya masih sama persis atau hanya diganti beberapa kata. Aturan meminta kamu menulis dengan bahasa sendiri atau memakai tanda kutip langsung. Peraturan ini juga memerintahkan setiap perguruan tinggi menetapkan peraturan integritas akademiknya sendiri, jadi ambang kemiripan, tingkat pelanggaran, dan prosedur di kampusmu bisa berbeda. Baca buku pedoman skripsi atau kode etik kampusmu dan tanyakan ke bagian akademik jika ada yang belum jelas.

Di luar kampus, ada juga rujukan hukum lain, misalnya Undang-Undang Hak Cipta dan Undang-Undang Sistem Pendidikan Nasional. Karena penerapannya bergantung pada kasus, kami tidak merangkum pasal pidananya di sini. Untuk urusan hukum, tanyakan kepada ahli hukum.

Jenis-jenis plagiarisme dengan contoh

Berikut jenis yang paling sering muncul di tugas kuliah, skripsi, artikel jurnal, dan tulisan kerja. Contohnya sengaja memakai kalimat bahasa Indonesia.

1. Plagiat langsung (copy-paste)

Menyalin kalimat atau paragraf persis tanpa tanda kutip dan tanpa sumber.

Sumber asli: "Bahasa Indonesia berfungsi sebagai alat pemersatu bangsa yang beragam suku dan bahasa daerahnya."

Plagiat: "Bahasa Indonesia berfungsi sebagai alat pemersatu bangsa yang beragam suku dan bahasa daerahnya." (ditaruh begitu saja di bab landasan teori)

Perbaikan: Menurut Rahman (2019), bahasa Indonesia "berfungsi sebagai alat pemersatu bangsa yang beragam suku dan bahasa daerahnya" (hlm. 12). Nama dan tahun di sini hanya contoh format, bukan rujukan sungguhan.

2. Plagiat mosaik (patchwriting)

Menempelkan potongan dari beberapa sumber, lalu mengganti kata sambung atau beberapa kata saja.

Sumber asli: "Penggunaan media sosial yang berlebihan pada remaja berkaitan dengan menurunnya waktu belajar."

Plagiat mosaik: "Pemakaian media sosial yang berlebihan pada remaja berhubungan dengan berkurangnya waktu belajar."

Strukturnya sama, hanya sinonim yang berganti. Menurut Permendikbudristek 39/2021, ini tetap masuk plagiat walaupun sumbernya disebut. Perbaikannya adalah memahami gagasan lalu menyusun kalimat dari awal. Lihat panduan cara parafrase agar tidak plagiat.

3. Plagiat gagasan

Memakai argumen, kerangka berpikir, atau temuan orang lain tanpa menyebut asalnya, walaupun semua kalimatnya kamu tulis sendiri. Gagasan yang bukan pengetahuan umum tetap butuh sitasi. Contohnya, menulis kerangka teori sebuah penelitian seolah-olah itu rancanganmu, padahal dikembangkan oleh peneliti lain.

4. Plagiat terjemahan

Mengambil artikel berbahasa Inggris, menerjemahkannya ke bahasa Indonesia, lalu menyerahkannya tanpa menyebut artikel asli. Jenis ini banyak terjadi karena pemeriksa kemiripan berbasis kata sering gagal mendeteksinya: kalimatnya berbeda bahasa, tetapi isi, struktur, dan datanya sama.

Contoh: seorang mahasiswa menerjemahkan dua halaman pendahuluan jurnal internasional tentang kecemasan belajar, mengganti nama penulis dengan "para ahli", lalu memasukkannya ke bab II. Kalau bagian itu memang dirujuk, tuliskan: "Menurut Smith dan Jones (2020), ..." dan masukkan artikel aslinya ke daftar pustaka. Terjemahan tanpa kredit tetap plagiat, dan terjemahan yang ditulis ulang hanya mengubah bentuk, bukan asal gagasannya.

5. Plagiat diri sendiri (self-plagiarism)

Memakai ulang tulisan sendiri yang sudah diterbitkan atau sudah dinilai tanpa menyebutnya. Permendikbudristek 39/2021 memasukkan karya atau gagasan milik sendiri yang telah diterbitkan. Contoh: bab metodologi skripsi diambil dari artikel jurnal yang sudah terbit atas namamu tanpa dikutip; atau satu makalah dikumpulkan di dua mata kuliah tanpa izin kedua dosen. Mengajukan naskah yang sama ke lebih dari satu jurnal dan dimuat di keduanya disebut pengajuan jamak dalam peraturan yang sama, yaitu pelanggaran yang berbeda.

6. Plagiat tidak sengaja

Terjadi karena sitasi tidak lengkap, tanda kutip hilang, atau catatan bercampur. Contohnya: Kamu menyalin satu paragraf ke berkas catatan dengan niat memparafrase nanti, lalu lupa mengubahnya dan lupa mencatat sumbernya. Aturan menilai karyanya, bukan perasaan penulisnya, sehingga kemungkinan ini perlu dicegah dengan disiplin mencatat.

7. Sitasi keliru dan sumber fiktif

Mencantumkan daftar pustaka yang tidak pernah kamu baca, atau menempelkan sitasi dari tulisan lain tanpa membuka sumber aslinya (sitasi sekunder tanpa keterangan). Sumber yang dikarang sepenuhnya termasuk fabrikasi menurut peraturan itu, bukan plagiat, tetapi sama-sama pelanggaran integritas akademik.

8. Kepengarangan yang tidak sah dan joki

Menyuruh orang lain menulis dan mengaku sebagai karya sendiri, atau memasukkan nama orang yang tidak berkontribusi. Peraturan itu mengaturnya sebagai kepengarangan yang tidak sah. Menggunakan jasa joki skripsi atau tugas masuk ke kategori ini.

Ringkasan jenis dalam satu tabel

JenisCiri utamaCara paling aman menghindari
LangsungKalimat sama persis, tanpa tanda kutipBeri tanda kutip dan sitasi, atau parafrase
MosaikSinonim diganti, struktur samaTutup sumber, tulis dari pemahaman
GagasanIde orang lain tanpa kreditSitasi setiap gagasan non-umum
TerjemahanArtikel asing diterjemahkan tanpa kreditRujuk artikel aslinya
Diri sendiriKarya lama dipakai tanpa sitasiSitasi karya sendiri atau minta izin
Tidak sengajaCatatan campur, sitasi hilangCatat sumber saat membaca

Dari mana kemiripan teks muncul?

Pemeriksa kemiripan membandingkan teksmu dengan basis data atau halaman web, lalu menampilkan persentase. Angka itu hanya petunjuk. Persentase rendah tidak menjamin tulisan bebas plagiat (misalnya gagasan yang dicuri atau terjemahan), dan persentase tinggi tidak selalu salah (misalnya daftar pustaka, kutipan langsung yang bersumber, atau istilah baku). Ambang yang diterapkan juga ditentukan masing-masing kampus atau jurnal, jadi jangan memakai angka dari teman jurusan lain sebagai patokan.

Kapan boleh memakai kalimat orang lain?

Kamu boleh memakai karya orang lain dengan tiga cara yang sah:

  1. Kutipan langsung. Kalimat ditaruh di antara tanda kutip, disertai nama, tahun, dan halaman. Kutipan pendek (kurang dari 40 kata dalam gaya APA 7) ditaruh dalam paragraf; kutipan panjang dibuat blok tersendiri. Pakai seperlunya.
  2. Parafrase dengan sitasi. Gagasan ditulis ulang dengan susunan dan katamu sendiri, tetap dengan sitasi.
  3. Ringkasan dengan sitasi. Gagasan besar sebuah sumber dipadatkan, tetap dengan sitasi.

Gaya sitasi yang paling umum dipakai di kampus Indonesia adalah APA, tetapi sebagian fakultas memakai Harvard, IEEE, Vancouver, atau gaya selingkung sendiri. Ikuti pedoman fakultasmu. Bantuan format ada di cara menulis daftar pustaka APA 7 dan cara menulis sitasi parafrase.

Contoh sebelum dan sesudah untuk skripsi

Sumber asli (misalnya dari artikel jurnal): "Pembelajaran daring memerlukan kemandirian belajar yang tinggi karena mahasiswa tidak lagi diawasi langsung oleh dosen."

Versi bermasalah: "Pembelajaran daring memerlukan kemandirian belajar yang tinggi sebab mahasiswa tidak diawasi langsung oleh dosen."

Hanya dua kata yang berubah. Ini plagiat mosaik.

Versi aman (parafrase): Dalam kelas daring, mahasiswa lebih banyak mengatur jadwal dan menagih dirinya sendiri, sehingga kemampuan belajar mandiri menjadi penentu hasil (Nama Penulis, Tahun).

Versi aman (kutipan langsung): Pembelajaran daring "memerlukan kemandirian belajar yang tinggi karena mahasiswa tidak lagi diawasi langsung oleh dosen" (Nama Penulis, Tahun, hlm. nomor).

Ganti "Nama Penulis, Tahun, hlm. nomor" dengan data sumber yang sungguh kamu baca.

Konsekuensi yang mungkin terjadi

Akibat plagiat bergantung pada kampus, jenis tugas, dan tingkat pelanggaran. Peraturan itu membagi tingkat pelanggaran menjadi ringan, sedang, dan berat sebagai dasar penjatuhan sanksi. Untuk mahasiswa, daftar sanksinya berjenjang dari pengurangan nilai sampai pembatalan ijazah. Untuk pekerja atau penulis konten, konsekuensinya biasanya berupa teguran, penarikan konten, hilangnya kepercayaan klien, atau tuntutan hak cipta dari pemilik karya. Peraturan itu juga memberi mahasiswa hak mengajukan keberatan atas sanksi; batas waktu dan tata caranya diatur kampus, jadi tanyakan ke bagian akademik.

Daftar periksa agar terhindar dari plagiat

  • Catat sumber saat membaca: penulis, tahun, judul, halaman, dan alamat web.
  • Pisahkan catatan kutipan langsung (beri tanda kutip) dari catatan parafrasemu sendiri.
  • Parafrase dengan menutup sumber lebih dulu, lalu tulis dari ingatan dan pemahaman. Setelah itu bandingkan.
  • Sitasi tetap diperlukan setelah parafrase.
  • Cantumkan setiap sumber dalam teks di daftar pustaka, dan sebaliknya.
  • Jika memakai terjemahan, rujuk teks asli dan tulis bahwa terjemahan itu milikmu.
  • Jika memakai tulisan sendiri yang lama, sebutkan atau minta izin.
  • Jika memakai alat AI, baca aturan kampus dan ungkapkan sesuai ketentuan. Bahasan lengkapnya ada di apakah memakai ChatGPT termasuk plagiat.
  • Periksa kemiripan sebelum diserahkan, lalu tinjau setiap bagian yang ditandai satu per satu.

Kesalahan yang sering terjadi

  1. Mengira parafrase otomatis aman. Mengganti sinonim tidak mengubah asal gagasan; sitasi tetap wajib.
  2. Mengandalkan angka persentase. Skor rendah bukan izin, skor tinggi bukan vonis. Baca bagian yang ditandai.
  3. Menyalin sitasi dari skripsi lain. Sitasi itu mungkin keliru atau tidak pernah dibaca penulis aslinya. Buka sumber primernya, lihat sumber primer dan sekunder.
  4. Menerjemahkan lalu mengaku. Terjemahan tanpa kredit tetap plagiat.
  5. Menunggu revisi. Mencatat sumber setelah tulisan selesai sering menimbulkan kekeliruan.

Memakai alat AdeptWrite dengan benar

AdeptWrite menyediakan beberapa alat gratis yang membantu proses ini, dengan batas yang kami tulis apa adanya.

  • Cek Plagiarisme mencari kemiripan teks dengan sumber terbuka seperti Wikipedia dan jurnal akses terbuka. Hanya 4 sampai 8 frasa pendek yang dikirim untuk pencarian, dan teksnya dibatasi 30 kata sampai 6.000 karakter per proses. Hasil 0% hanya berarti tidak ditemukan kemiripan di sumber yang dicari; alat ini bukan Turnitin, tidak memeriksa seluruh internet, dan tidak menjadi bukti ada atau tidaknya plagiat. Kecocokan menunjukkan kesamaan kata, bukan niat.
  • Parafrase Online membantu menulis ulang kalimat dalam mode seperti Standar, Formal, atau Akademik. Hasilnya draf yang perlu kamu baca dan sesuaikan, dan sitasi tetap harus kamu tambahkan.
  • Generator Daftar Pustaka menyusun daftar pustaka dan sitasi dalam teks dalam beberapa gaya, termasuk APA 7. Periksa kembali kecocokannya dengan pedoman kampus.
  • Cek Ejaan & Typo dan Cek KBBI membantu merapikan ejaan dan kata tidak baku dengan merujuk KBBI dan EYD Edisi V.

AdeptWrite adalah penyedia alat tulis dan tidak mewakili kampus atau lembaga mana pun. Keputusan tentang ada tidaknya plagiat tetap dibuat oleh dosen, tim integritas akademik, atau editor jurnal berdasarkan aturan yang berlaku.

Pertanyaan lanjutan

Untuk langkah praktis berikutnya, baca cara menghindari plagiarisme dan apakah parafrase termasuk plagiat. Untuk pemeriksaan sebelum menyerahkan tugas, lihat cara cek plagiarisme gratis.

Coba alatnya

Cek Plagiarisme
Cari kemiripan teks dengan sumber terbuka seperti Wikipedia dan jurnal akses terbuka, lengkap dengan daftar sumber yang diperiksa.
Buka alat
Parafrase Online
Tulis ulang kalimat dalam 7 mode: Standar, Formal, Santai, Akademik, Kreatif, Ringkas, Panjangkan.
Buka alat
Generator Daftar Pustaka
Buat daftar pustaka dan sitasi dalam teks gaya APA 7, MLA 9, Chicago, Harvard, atau IEEE secara otomatis.
Buka alat
Cek Ejaan & Typo (EYD V)
Temukan typo dan kata tidak baku (dicocokkan dengan KBBI dan EYD V), langsung di browser.
Buka alat

Pertanyaan umum

Apa perbedaan plagiarisme dan plagiat?

Dalam penggunaan sehari-hari keduanya dipakai bergantian. Plagiat adalah perbuatan atau hasil karya yang diambil dari orang lain, sedangkan plagiarisme adalah paham atau praktik melakukan plagiat. Dalam aturan integritas akademik dan percakapan di kampus, dua kata ini hampir selalu bermakna sama.

Apakah menyebut sumber saja sudah cukup?

Belum tentu. Permendikbudristek 39/2021 menyebut menulis ulang tanpa bahasa sendiri sebagai plagiat walaupun sumbernya disebut. Gunakan tanda kutip untuk kalimat yang sama persis, atau parafrase sungguh-sungguh dengan susunan sendiri lalu tetap cantumkan sitasi.

Apakah menerjemahkan artikel asing termasuk plagiat?

Ya, jika kamu menyerahkannya sebagai karya sendiri atau tidak menyebut artikel aslinya. Terjemahan hanya mengubah bahasa, bukan asal gagasan. Rujuk teks asli dengan sitasi, dan jika kamu mengutip terjemahan sendiri, tuliskan bahwa terjemahan itu milikmu.

Berapa persen kemiripan yang aman?

Tidak ada angka universal. Ambang ditetapkan masing-masing kampus, fakultas, atau jurnal, dan persentase juga menghitung kutipan serta daftar pustaka. Tanyakan batas di pedoman kampusmu, lalu tinjau setiap bagian yang ditandai, bukan hanya angka totalnya.

Semua panduan