Sekolah, kuliah & skripsi

Perbedaan Daftar Pustaka, Daftar Referensi, dan Bibliografi

Tim Editorial AdeptWriteDiperbarui 8 menit baca

Daftar pustaka adalah istilah umum di kampus Indonesia untuk daftar sumber di akhir karya tulis. Daftar referensi (reference list) hanya memuat sumber yang benar-benar dikutip di dalam teks, sedangkan bibliografi boleh memuat juga bacaan yang dipakai sebagai latar tanpa dikutip. Pedoman penulisan kampus atau jurnal selalu menang atas definisi umum.

Jawaban singkat: apa bedanya?

Di lapangan, ketiga istilah ini sering dipakai bergantian, dan itu wajar. Namun ada pembedaan yang berguna:

  • Daftar pustaka: istilah paling umum dalam pedoman skripsi, tesis, dan makalah di Indonesia. Isinya daftar sumber yang menjadi rujukan tulisan, diletakkan di akhir karya.
  • Daftar referensi: terjemahan langsung dari reference list gaya APA. Hanya sumber yang disitasi di dalam teks yang boleh masuk, dan setiap sitasi di teks harus punya pasangan di daftar ini.
  • Bibliografi: daftar karya tentang suatu topik. Dalam arti luas, bibliografi boleh memuat sumber yang dibaca sebagai latar belakang meskipun tidak dikutip langsung. Buku sering memakainya di bagian akhir, dan ada juga bibliografi beranotasi yang memberi catatan singkat untuk tiap sumber.

Jadi perbedaan intinya ada pada satu pertanyaan: apakah semua entri harus muncul di dalam teks? Untuk daftar referensi jawabannya ya. Untuk bibliografi jawabannya tidak harus.

Tabel perbandingan

AspekDaftar pustakaDaftar referensiBibliografi
Asal istilahIstilah umum di pedoman kampus IndonesiaReference list (APA)Bibliography (Chicago, buku, karya ilmiah klasik)
IsiSumber yang dirujuk, bergantung pedomanHanya sumber yang disitasi di teksSumber yang dikutip dan boleh juga bacaan latar
Cocok dengan sitasi di teksBiasanya yaWajib satu lawan satuTidak wajib
Penggunaan khasSkripsi, tesis, makalah, laporanArtikel jurnal dan skripsi bergaya APABuku, disertasi, kajian pustaka luas
CatatanIkuti templat kampusJudul bagian ditulis "Daftar Referensi"Bisa beranotasi

Istilah apa yang dipakai kampus Indonesia?

Tidak ada satu istilah baku yang dipakai semua perguruan tinggi. Pedoman penulisan skripsi dan tesis memakai nama berbeda untuk bagian yang sama: "Daftar Pustaka" paling lazim, lalu "Daftar Referensi", dan di sebagian pedoman "Daftar Rujukan" atau "Daftar Acuan". Jurnal ilmiah nasional umumnya menulis "Daftar Pustaka" atau "Referensi" mengikuti templat penerbitnya.

Karena itu, jangan memilih istilah berdasarkan selera. Urutan yang aman:

  1. Buka pedoman penulisan karya ilmiah fakultas atau program studimu. Pakai judul bagian dan format yang tertulis di sana.
  2. Untuk artikel jurnal, ikuti petunjuk penulis (author guidelines) jurnal tujuan.
  3. Jika dosen pembimbing menyebut gaya tertentu (misalnya APA 7), ikuti gaya itu dan tanyakan istilah yang diminta.
  4. Baru jika tidak ada aturan sama sekali, pilih "Daftar Pustaka" dan jelaskan secara konsisten.

Yang tidak boleh adalah mencampur: halaman bertuliskan "Daftar Pustaka" tetapi isinya memakai tiga gaya berbeda, atau judul bab disebut bibliografi padahal pedoman meminta daftar referensi.

Gaya sitasi dan istilahnya

Gaya sitasi menentukan nama dan aturan daftar akhir:

GayaNama daftar akhirCatatan
APA 7Reference list (daftar referensi)Hanya sumber yang dikutip; urut abjad
MLA 9Works CitedMirip daftar referensi; urut abjad
Chicago (notes-bibliography)BibliographyCatatan kaki di teks, bibliografi di akhir
HarvardReference listUrut abjad; variasi antar institusi
IEEEReferencesDiurutkan menurut urutan muncul di teks, bukan abjad

Perhatikan bahwa IEEE tidak memakai urutan abjad. Banyak mahasiswa teknik terkecoh karena membawa kebiasaan "selalu urut abjad" dari gaya lain. Panduan lengkap gaya yang paling banyak dipakai ada di cara menulis daftar pustaka APA 7.

Urutan abjad untuk nama Indonesia

Ini bagian yang paling sering membingungkan, karena aturan APA dan gaya lain dirancang untuk nama berpola "nama depan, nama keluarga". Nama orang Indonesia tidak seragam:

  • Nama tunggal (satu kata, misalnya "Sukarno" atau "Suharto" di sumber lama): tulis apa adanya, tanpa inisial. APA 7 memperlakukan nama tunggal sebagai nama itu sendiri dan menyusunnya berdasarkan nama tersebut.
  • Nama dua kata atau lebih tanpa marga (misalnya "Siti Nurhaliza Putri" atau "Budi Santoso"): praktik berbeda-beda. Sebagian pedoman kampus membalik nama menjadi "Santoso, B." dengan kata terakhir sebagai nama belakang, sebagian lain mempertahankan urutan penulisan nama sebagaimana tercantum di sumber. Pakai aturan pedomanmu dan terapkan konsisten untuk seluruh daftar.
  • Nama dengan marga (misalnya Batak: "Hotman Siregar", Minahasa: "Maria Wuisan", Ambon: "Laurens Tuhumury"): marga adalah nama keluarga, jadi dibalik menjadi "Siregar, H." dan diurutkan menurut marga, seperti nama keluarga di sistem Barat.
  • Gelar (Prof., Dr., Ir., S.Pd., M.Si.): dibuang dari entri. Gelar bukan bagian nama dalam daftar pustaka.
  • Nama dengan partikel Arab seperti "Abdul" atau "Muhammad": ikuti cara nama itu dicantumkan di sumber, dan baca pedoman kampus karena aturannya beragam.

Cara paling aman untuk nama yang ambigu: lihat bagaimana penulis itu menulis namanya sendiri di artikel atau sampul bukunya, lalu pakai bentuk yang sama di seluruh karya. Jangan menebak mana nama keluarga.

Contoh entri dengan penulis Indonesia

Daftar referensi gaya APA 7, diurutkan abjad menurut kata pertama entri:

  • Nasution, A. (2021). Metode penelitian sosial. Bumi Aksara.
  • Santoso, B. (2020). Literasi digital mahasiswa di masa pandemi. Jurnal Pendidikan dan Kebudayaan, 25(2), 101–115.
  • Siregar, H. (2019). Statistik terapan untuk penelitian. Prenadamedia Group.
  • Sukarno. (1963). Di bawah bendera revolusi. Panitya Penerbit.

Perhatikan bahwa "Sukarno" berdiri sendiri dan diurutkan sebagai "Sukarno", di bawah "Siregar" karena "Si" lebih dahulu daripada "Su". Contoh ini hanya ilustrasi format; periksa data sumber nyata sebelum dipakai.

Aturan urutan yang berlaku untuk semuanya

Untuk daftar yang diurutkan abjad, beberapa aturan sama di hampir semua pedoman:

  1. Urutkan menurut huruf pertama entri (nama belakang atau nama tunggal penulis pertama).
  2. Jika penulis sama, urutkan menurut tahun terbit, yang lebih tua dahulu.
  3. Jika penulis dan tahun sama, tambahkan huruf a, b, c setelah tahun (2020a, 2020b) dan pakai huruf yang sama di teks.
  4. Sumber tanpa penulis diurutkan menurut kata pertama judul (pedoman berbahasa Inggris mengabaikan A, An, dan The di awal judul; untuk judul Indonesia, ikuti pedoman kampusmu).
  5. Sumber dari lembaga, misalnya Badan Pusat Statistik atau Kementerian Kesehatan, diurutkan menurut nama lembaga lengkap, bukan singkatannya, kecuali pedoman menyatakan lain.
  6. Gunakan indentasi gantung (hanging indent) jika gaya mengharuskan: baris pertama rata kiri, baris berikutnya menjorok.

Catatan: alfabet Indonesia memakai huruf Latin yang sama dengan Inggris, jadi tidak ada aturan urutan khusus untuk huruf seperti "ng" atau "ny"; keduanya dihitung huruf demi huruf.

Cara memilih: bagan sederhana

  • Pedoman kampus atau jurnal menyebut istilah tertentu? Pakai itu.
  • Memakai APA 7 atau Harvard? Tulis "Daftar Referensi" atau "Daftar Pustaka" (sesuai pedoman) dan pastikan setiap entri dikutip di teks.
  • Memakai Chicago dengan catatan kaki? Bagian akhirnya "Bibliografi". Lihat juga cara membuat catatan kaki.
  • Menulis buku atau kajian luas dan ingin mencantumkan bacaan lanjutan? Bibliografi, atau bagian "Bacaan Lanjutan".
  • Ingin memberi ulasan singkat untuk tiap sumber? Bibliografi beranotasi: tiap entri diikuti paragraf pendek berisi ringkasan dan penilaian.

Kesalahan yang sering terjadi

  1. Memasukkan sumber yang tidak pernah dikutip. Di daftar referensi hal ini keliru. Cocokkan daftar akhir dengan isi teks sebelum mengumpulkan.
  2. Sitasi di teks tidak ada di daftar akhir. Dosen penguji menganggap ini sebagai sumber hilang.
  3. Mencampur gaya. Satu entri gaya APA, satu entri gaya Harvard, satu lagi hanya tautan.
  4. Mengurutkan menurut urutan ketemu, bukan abjad (padahal gayanya bukan IEEE).
  5. Memasukkan gelar penulis seperti "Dr. Ir. Budi Santoso, M.T.".
  6. Salah membalik nama marga atau membalik nama yang tidak punya marga tanpa dasar aturan.
  7. Mencantumkan tautan Wikipedia atau blog tanpa penilaian pada tulisan yang menuntut sumber primer. Bedanya dijelaskan di sumber primer dan sekunder.
  8. Tidak mencantumkan tanggal akses pada sumber daring yang berubah-ubah, ketika pedoman memintanya.

Daftar periksa sebelum mengumpulkan

  1. Judul bagian sesuai pedoman kampus atau jurnal.
  2. Semua sitasi di teks ada di daftar, dan sebaliknya (kecuali bibliografi).
  3. Satu gaya sitasi dipakai dari awal sampai akhir.
  4. Urutan benar: abjad, atau urutan kemunculan untuk IEEE.
  5. Nama penulis ditulis konsisten, tanpa gelar.
  6. Tahun, judul, penerbit, volume, nomor, halaman, dan DOI atau URL lengkap.
  7. Huruf miring dan huruf kapital judul mengikuti gaya yang dipilih.
  8. Indentasi gantung diterapkan jika diminta.

Memakai AdeptWrite untuk daftar pustaka

Generator Daftar Pustaka menyusun entri dan sitasi dalam teks untuk gaya APA 7, MLA 9, Chicago, Harvard, dan IEEE dari data sumber yang kamu isi. Hasilnya bergantung pada data yang kamu masukkan, jadi periksa nama penulis, tahun, dan halaman, lalu cocokkan dengan pedoman kampusmu, karena sebagian institusi memiliki variasi sendiri.

Jika daftarmu sudah ada dalam bentuk satu entri per baris, Urutkan Abjad dapat mengurutkan baris A sampai Z. Alat ini hanya mengurutkan teks yang ada, jadi pastikan nama belakang atau nama tunggal berada di awal tiap baris sebelum mengurutkan. Untuk memeriksa ejaan judul dan kata dalam bahasa Indonesia, Cek Ejaan mencocokkan kata dengan KBBI dan EYD Edisi V, tetapi alat ini tidak memeriksa kebenaran data sumber. Karena sitasi juga berkaitan erat dengan etika, baca cara menghindari plagiarisme.

Coba alatnya

Generator Daftar Pustaka
Buat daftar pustaka dan sitasi dalam teks gaya APA 7, MLA 9, Chicago, Harvard, atau IEEE secara otomatis.
Buka alat
Urutkan Abjad (Sort Lines)
Urutkan baris A–Z, Z–A, atau acak sesuai aturan abjad bahasamu.
Buka alat
Cek Ejaan & Typo (EYD V)
Temukan typo dan kata tidak baku (dicocokkan dengan KBBI dan EYD V), langsung di browser.
Buka alat

Pertanyaan umum

Apakah daftar pustaka sama dengan bibliografi?

Dalam penggunaan sehari-hari di Indonesia keduanya sering dianggap sama. Secara ketat, daftar pustaka memuat sumber yang dirujuk dalam karya, sedangkan bibliografi boleh memuat juga bacaan latar yang tidak dikutip. Untuk skripsi, ikuti istilah dan isi yang diminta pedoman kampusmu.

Apakah semua sumber di daftar pustaka harus dikutip di dalam teks?

Pada gaya APA, Harvard, dan MLA, ya: setiap entri harus dikutip di teks dan setiap kutipan harus ada di daftar. Pada bibliografi gaya Chicago atau bibliografi buku, sumber latar yang tidak dikutip boleh masuk. Jika ragu, tanyakan ke dosen pembimbing.

Bagaimana mengurutkan penulis yang hanya punya satu nama?

Tulis nama itu apa adanya tanpa inisial, lalu urutkan menurut nama tersebut seperti nama belakang. Untuk nama dua kata tanpa marga, praktik kampus berbeda-beda, jadi ikuti pedomanmu dan terapkan konsisten di seluruh daftar, termasuk di sitasi dalam teks.

Apakah gelar akademik ditulis di daftar pustaka?

Tidak. Gelar seperti Prof., Dr., Ir., S.Pd., atau M.Si. dibuang dari entri daftar pustaka. Tulis nama penulis sebagaimana tercantum sebagai penulis di sumber, lalu susun menurut gaya sitasi yang kamu pakai.

Semua panduan