Sekolah, kuliah & skripsi

Sumber Primer dan Sekunder: Pengertian, Contoh, dan Cara Mengutipnya

Tim Editorial AdeptWriteDiperbarui 7 menit baca

Sumber primer adalah bukti langsung dari peristiwa atau penelitian itu sendiri, seperti arsip, undang-undang, hasil wawancara, dan data mentah. Sumber sekunder menafsirkan atau merangkum sumber primer, misalnya buku sejarah dan artikel tinjauan. Bidang ilmumu menentukan penggolongannya, jadi tanyakan selalu: apakah ini bukti asli atau tafsiran orang lain?

Jawaban singkat: apa bedanya sumber primer dan sekunder

Sumber primer adalah bahan yang lahir langsung dari peristiwa, orang, atau penelitian yang kamu bahas: teks asli, arsip, hasil pengamatan, data mentah. Sumber sekunder adalah karya yang menganalisis, menafsirkan, atau merangkum sumber primer, ditulis oleh orang yang tidak mengalami langsung peristiwanya. Ada juga sumber tersier yang mengumpulkan dan merangkum sumber sekunder, seperti ensiklopedia dan kamus.

JenisPertanyaan penentuContoh umum
PrimerApakah ini bukti langsung dari peristiwa atau penelitiannya?Arsip, naskah, undang-undang, wawancara, data survei mentah
SekunderApakah ini analisis atau tafsiran atas sumber primer?Buku sejarah, artikel tinjauan, skripsi, komentar hukum
TersierApakah ini ringkasan dari banyak sumber sekunder?Ensiklopedia, kamus, buku teks pengantar

Satu hal penting: jenis sumber bergantung pada pertanyaan penelitianmu, bukan pada bentuk dokumennya. Surat harian seorang pejabat tahun 1925 adalah sumber primer bagi sejarawan yang meneliti birokrasi kolonial, tetapi sebuah buku tentang birokrasi itu adalah sumber sekunder, kecuali bila kamu meneliti bagaimana buku itu dibaca, maka ia menjadi sumber primer untuk penelitianmu.

Awas: dua istilah "primer" dan "sekunder" yang berbeda

Mahasiswa Indonesia sering bingung karena istilah ini muncul di dua konteks.

  1. Sumber primer/sekunder (humaniora, sejarah, hukum): soal asal bukti, seperti dibahas di atas.
  2. Data primer/sekunder (metodologi penelitian sosial dan kuantitatif): soal siapa yang mengumpulkan data. Data primer dikumpulkan sendiri oleh peneliti untuk tujuan penelitiannya, misalnya lewat kuesioner, wawancara, atau observasi. Data sekunder dikumpulkan pihak lain untuk tujuan lain, lalu dipakai ulang, misalnya publikasi lembaga atau penelitian terdahulu.

Dua konteks ini sering bertemu di satu skripsi. Bila dosenmu menulis "gunakan data sekunder", ia umumnya memakai arti kedua. Bila ia menulis "rujuk sumber primer", ia biasanya memakai arti pertama. Kalau ragu, tanyakan dalam bimbingan.

Contoh per bidang di Indonesia

Sejarah

  • Primer: dokumen di Arsip Nasional Republik Indonesia (ANRI), naskah proklamasi, surat kabar terbitan masa itu, foto dan film dokumenter masa itu, naskah kuno seperti kakawin atau babad, memoar dan catatan harian pelaku, serta wawancara sejarah lisan dengan saksi peristiwa.
  • Sekunder: buku sejarah Indonesia yang ditulis sejarawan masa kini, artikel jurnal sejarah, skripsi tentang peristiwa yang sama.
  • Tersier: ensiklopedia sejarah, buku pelajaran pengantar.

Catatan metodologi: sejarawan menilai primer pun dengan kritis, yaitu menguji keaslian dokumen (kritik ekstern) dan kredibilitas isinya (kritik intern). Dokumen yang asli belum tentu isinya benar.

Hukum

  • Primer (bahan hukum primer): peraturan perundang-undangan seperti undang-undang, peraturan pemerintah, dan peraturan daerah; putusan pengadilan; putusan Mahkamah Konstitusi; perjanjian.
  • Sekunder (bahan hukum sekunder): buku hukum, artikel jurnal hukum, hasil penelitian, rancangan undang-undang beserta naskah akademiknya, dan komentar para ahli.
  • Tersier (bahan hukum tersier): kamus hukum dan ensiklopedia hukum.

Pembagian tiga tingkat ini lazim di penelitian hukum normatif di Indonesia. Ambil teks peraturan dari sumber resmi seperti basis data peraturan pemerintah, bukan dari salinan yang tidak jelas asalnya, karena peraturan bisa diubah atau dicabut. Cara mengutipnya dibahas di cara mengutip undang-undang APA 7.

Kesehatan

  • Primer: laporan hasil penelitian asli (artikel yang melaporkan data baru dari penelitiannya sendiri), data mentah survei, rekam hasil uji klinis, hasil wawancara atau kuesioner yang kamu kumpulkan sendiri.
  • Sekunder: artikel tinjauan sistematis dan meta-analisis, buku teks, pedoman praktik klinis yang merangkum bukti.
  • Tersier: ensiklopedia kesehatan, kamus kedokteran.

Publikasi survei kesehatan nasional dari Kementerian Kesehatan seperti Riskesdas berisi data yang dikumpulkan lembaga itu sendiri, sehingga bagi lembaganya ia primer, tetapi bagi skripsimu yang memakai ulang angkanya ia termasuk data sekunder. Sebutkan jelas posisi datamu dalam bab metode.

Data BPS: primer atau sekunder?

Badan Pusat Statistik (BPS) mengumpulkan data lewat sensus dan survei, lalu menerbitkan tabel, laporan, dan publikasi. Cara menggolongkannya bergantung pada konteks:

  • Bagi BPS, hasil sensus dan survei yang ia kumpulkan adalah data primer lembaga itu.
  • Bagi mahasiswa yang mengunduh tabel dari situs BPS, itu data sekunder: kamu tidak mengumpulkannya sendiri.
  • Bila kamu memperoleh data mentah tingkat individu dan menganalisisnya sendiri, tetap data sekunder dalam arti metodologi, tetapi kamu memegang bahan yang lebih dekat ke sumber ketimbang tabel ringkasan.

Praktik baik saat memakai data BPS: catat judul tabel, tahun data, tahun publikasi, dan tanggal akses; cek definisi variabel dan wilayah cakupannya; dan jangan membandingkan angka dari tahun atau metode berbeda tanpa membaca catatan metodologinya. Karena situs dapat memperbarui tabel, tulis tanggal akses di sitasi. Contoh entri gaya APA (judul dan tahun rekaan):

Badan Pusat Statistik. (2024). Contoh judul tabel statistik tahunan. https://www.bps.go.id/

Kapan memakai sumber primer, kapan sekunder

TujuanmuSumber yang cocok
Membuktikan apa yang sebenarnya terjadi atau tertulisPrimer
Memahami latar belakang dan perdebatan di bidangmuSekunder
Mengenal topik baru sebelum menyelamTersier, lalu lanjut ke sekunder
Menguji tafsiran penulis lainPrimer yang dirujuk penulis itu
Menyusun kajian pustakaSekunder, ditambah primer penting

Pola kerja yang sehat: mulai dari sumber sekunder untuk memetakan topik dan melihat siapa merujuk apa, lalu telusuri sumber primer yang mereka sebut, dan baca sendiri. Mengutip sumber primer lewat sumber sekunder tanpa membukanya berisiko meneruskan salah baca. Bila terpaksa, tandai sebagai kutipan tidak langsung sesuai pedoman kampusmu, misalnya dengan "dalam" atau "sebagaimana dikutip dalam".

Cara mengutip masing-masing jenis

Prinsipnya sama untuk semua jenis: tulis penulis atau lembaga, tahun, judul, dan keterangan agar pembaca bisa menemukan sumbernya. Perbedaannya ada di rincian:

  • Buku atau artikel sekunder: pola daftar pustaka biasa, lihat cara menulis daftar pustaka APA 7.
  • Arsip: tulis lembaga penyimpan, nama koleksi, nomor inventaris atau kode dokumen, dan tanggal dokumen. Contoh catatan kaki: "Surat Residen Surabaya kepada Gubernur Jenderal, 12 Maret 1925, ANRI, inventaris contoh no. 17." (rekaan).
  • Peraturan: nama peraturan lengkap dengan nomor dan tahun.
  • Wawancara yang kamu lakukan sendiri: pada APA, wawancara pribadi yang tidak dapat diakses pembaca biasanya cukup disebut di dalam teks sebagai komunikasi pribadi dan tidak masuk daftar pustaka, tetapi dalam skripsi biasanya narasumber dicantumkan dalam bab metode atau lampiran. Ikuti pedoman kampus.
  • Data dari situs resmi: cantumkan lembaga, tahun, judul tabel, URL, dan tanggal akses.

Gaya catatan kaki yang banyak dipakai di skripsi sejarah dan hukum dijelaskan di cara membuat catatan kaki. Untuk kutipan di dalam kalimat, lihat cara menulis kutipan dalam teks.

Kesalahan yang paling sering terjadi

  1. Menganggap internet otomatis sumber sekunder. Bentuk sumber tidak menentukan jenisnya. Arsip yang dipindai tetap primer.
  2. Menganggap skripsi atau jurnal selalu primer. Artikel yang melaporkan penelitian baru bisa primer, tetapi skripsi yang merangkum penelitian orang lain adalah sekunder.
  3. Mencampur arti sumber dan data, lalu salah menulis di bab metode.
  4. Memakai ensiklopedia atau blog sebagai rujukan utama skripsi, padahal dosen biasanya mengharapkan sumber primer dan sekunder akademik.
  5. Mengutip sumber primer dari kutipan orang lain tanpa memeriksa teks aslinya.
  6. Tidak mencatat tanggal akses untuk halaman yang bisa berubah, termasuk tabel BPS dan basis data peraturan.
  7. Tidak menuliskan keterbatasan data sekunder, seperti definisi variabel yang tidak sama dengan kebutuhan penelitianmu.
  8. Menaruh sumber di daftar pustaka yang tidak pernah disitasi.

Daftar periksa memilih dan memakai sumber

  1. Pertanyaan penelitianku sudah jelas, sehingga aku tahu apa yang bagiku primer.
  2. Setiap sumber sudah kuberi label: primer, sekunder, atau tersier.
  3. Sumber primer yang penting kubaca langsung, bukan hanya lewat kutipan.
  4. Penulis, lembaga, tahun, dan tanggal akses tercatat.
  5. Untuk data BPS atau lembaga lain, definisi dan cakupan sudah kubaca.
  6. Pedoman kampus tentang gaya sitasi sudah kuikuti.
  7. Sitasi di teks dan daftar pustaka sudah berpasangan.

Memakai AdeptWrite untuk mengelola sumber

Generator Daftar Pustaka menyusun entri daftar pustaka dan kutipan dalam teks dari data yang kamu isi, untuk buku, artikel jurnal, situs web, skripsi, laporan, dan jenis lain, dalam gaya APA 7, MLA 9, Chicago, Harvard, atau IEEE. Alat ini berjalan di browser dan memakai kata penghubung bahasa Indonesia seperti dkk. dan hlm. Ia tidak menentukan apakah sumbermu primer atau sekunder dan tidak memeriksa kebenaran isinya, jadi cocokkan hasilnya dengan pedoman kampus.

Bila kamu merangkum sumber dengan kata-katamu sendiri, Parafrase Online dapat membantu menyusun ulang kalimat, tetapi sitasi tetap wajib ditulis. Petunjuknya ada di cara menulis sitasi parafrase dan cara menghindari plagiarisme.

Coba alatnya

Generator Daftar Pustaka
Buat daftar pustaka dan sitasi dalam teks gaya APA 7, MLA 9, Chicago, Harvard, atau IEEE secara otomatis.
Buka alat
Parafrase Online
Tulis ulang kalimat dalam 7 mode: Standar, Formal, Santai, Akademik, Kreatif, Ringkas, Panjangkan.
Buka alat

Pertanyaan umum

Apa contoh sumber primer dan sekunder dalam sejarah?

Sumber primer misalnya arsip di ANRI, naskah kuno, surat kabar sezaman, memoar pelaku, dan wawancara dengan saksi. Sumber sekunder misalnya buku sejarah dan artikel jurnal yang menafsirkan sumber-sumber itu. Jenisnya bergantung pada pertanyaan penelitianmu.

Apakah data BPS termasuk data primer atau sekunder?

Bagi BPS yang mengumpulkannya lewat sensus dan survei, itu data primer lembaga. Bagi mahasiswa yang mengunduh tabel dari situs BPS untuk skripsinya, itu data sekunder. Sebutkan judul tabel, tahun data, URL, dan tanggal akses di sitasi.

Apakah undang-undang termasuk sumber primer?

Ya. Dalam penelitian hukum di Indonesia, peraturan perundang-undangan dan putusan pengadilan adalah bahan hukum primer. Buku dan artikel hukum termasuk bahan hukum sekunder, sedangkan kamus hukum termasuk bahan hukum tersier.

Bolehkah skripsi hanya memakai sumber sekunder?

Bergantung pada jenis penelitian dan pedoman prodi. Kajian pustaka biasanya sekunder, tetapi banyak skripsi juga mengharuskan data atau bahan primer. Tanyakan dosen pembimbing apa yang diharapkan sebelum mulai mengumpulkan sumber.

Semua panduan