Majas (Gaya Bahasa): 25 Jenis, Pengertian, dan Contohnya
Majas adalah gaya bahasa yang memakai makna kiasan untuk membuat tulisan lebih hidup, misalnya "hatinya batu" atau "Ia berlari secepat kilat". Buku pelajaran mengelompokkannya menjadi majas perbandingan, penegasan, pertentangan, dan sindiran. Panduan ini memuat 25 jenis, contoh, perbedaan yang sering tertukar, dan kuis latihan.
Apa itu majas?
Majas, disebut juga gaya bahasa atau figurative language dalam bahasa Inggris, adalah cara memakai bahasa dengan makna kiasan, bukan makna harfiah, untuk menimbulkan kesan tertentu pada pembaca. Kalimat "Dia sangat marah" menyampaikan informasi. Kalimat "Matanya menyala-nyala menatap kami" menyampaikan informasi yang sama, tetapi kita seperti ikut melihat amarah itu.
Dalam pelajaran Bahasa Indonesia, majas biasanya muncul bersama puisi, cerpen, pidato, iklan, dan soal ujian. Pembagian yang paling umum di buku sekolah ada empat kelompok:
| Kelompok | Intinya | Contoh jenis |
|---|---|---|
| Perbandingan | Menyamakan atau menggantikan satu hal dengan hal lain | metafora, simile, personifikasi |
| Penegasan | Menekankan maksud supaya lebih kuat | repetisi, klimaks, retorik |
| Pertentangan | Memakai makna yang berlawanan atau dibesar-kecilkan | hiperbola, litotes, paradoks |
| Sindiran | Menyindir secara halus sampai kasar | ironi, sinisme, sarkasme |
Catatan jujur: pengelompokan dan nama majas tidak seragam. Beberapa buku memasukkan eufemisme ke kelompok pertentangan atau sindiran, dan ada yang menyebut satu majas dengan dua nama. Untuk ujian, ikuti istilah dan pembagian di buku atau modul gurumu. Untuk tulisan sendiri, yang penting bukan label, tetapi apakah kiasannya jelas dan segar.
Cara cepat mengenali majas
Kalau soal ujian menyodorkan kalimat dan kamu harus menebak jenisnya, urutkan pertanyaan ini:
- Apakah dua hal dibandingkan? Kalau ada kata seperti, bagai, laksana, ibarat, bak, atau seolah-olah, itu simile. Kalau tanpa kata pembanding, itu metafora.
- Apakah benda mati atau hewan berperilaku seperti manusia? Itu personifikasi.
- Apakah ada yang dilebih-lebihkan? Itu hiperbola. Dikecil-kecilkan untuk merendah? Itu litotes.
- Apakah ada pengulangan kata atau urutan bertingkat? Itu repetisi atau klimaks.
- Apakah isi kalimat bertentangan dengan kenyataan, dengan nada menyindir? Itu ironi, sinisme, atau sarkasme tergantung kasarnya.
1. Majas perbandingan
Majas ini membandingkan satu hal dengan hal lain, atau memakai satu hal untuk mewakili hal lain.
| No | Majas | Pengertian | Contoh |
|---|---|---|---|
| 1 | Personifikasi | Menganggap benda atau hewan bertindak seperti manusia | Angin berbisik di sela daun jendela. |
| 2 | Metafora | Perbandingan langsung tanpa kata pembanding | Ibu adalah matahari di rumah kami. |
| 3 | Simile (perumpamaan) | Perbandingan dengan kata seperti, bagai, laksana | Larinya secepat kilat. |
| 4 | Asosiasi | Perbandingan dengan hal yang sudah lazim dikenal | Wajahnya pucat bagai mayat. |
| 5 | Alegori | Cerita atau uraian utuh yang berisi kiasan | Fabel kancil dan buaya untuk menyindir kelicikan. |
| 6 | Metonimia | Memakai merek, nama, atau ciri untuk menyebut hal lain | Tolong ambilkan Aqua di kulkas. |
| 7 | Sinekdoke | Menyebut sebagian untuk keseluruhan, atau sebaliknya | Sudah seminggu ia tak kelihatan batang hidungnya. |
| 8 | Eufemisme | Memperhalus kata yang dianggap kasar atau tabu | Beliau telah berpulang (bukan "mati"). |
| 9 | Alusi | Merujuk tokoh atau peristiwa terkenal | Awas, jangan sampai kamu jadi Malin Kundang di rumah ini. |
Personifikasi
Benda mati diberi sifat manusia. Dalam puisi Indonesia, personifikasi sangat sering dipakai untuk alam. Contoh sehari-hari: "Ombak menjilat kaki dermaga" atau "Lampu kota tertidur menjelang subuh". Ujiannya sederhana: bisakah kata kerja itu dilakukan oleh benda tersebut kalau dibaca harfiah? Ombak tidak bisa menjilat, jadi itu kiasan.
Metafora dan simile
Perbedaannya hanya pada kata pembanding. "Dia bagai singa di arena" adalah simile. "Dia singa di arena" adalah metafora. Metafora terasa lebih kuat dan lebih ringkas, simile lebih mudah dipahami pembaca pemula. Jangan terkecoh: "seperti" tidak selalu penanda simile. Dalam "Aku datang seperti biasa", tidak ada perbandingan dua benda.
Chairil Anwar menulis dalam puisi "Aku" (1943): "Aku ini binatang jalang". Itu metafora: penyair tidak sungguh-sungguh seekor binatang, ia menyamakan dirinya dengan makhluk liar yang tak mau dijinakkan. Kutip puisi seperlunya saja dan selalu sebutkan penyair serta judulnya.
Metonimia dan sinekdoke
Dua majas ini sering tertukar. Metonimia memakai sesuatu yang berhubungan erat: merek, penemu, atau ciri. "Bapak naik Avanza" berarti naik mobil bermerek itu. Sinekdoke memakai bagian untuk keseluruhan (pars pro toto) atau keseluruhan untuk bagian (totum pro parte). "Setiap kepala mendapat satu bungkus nasi" berarti setiap orang. "Indonesia menang atas Thailand di final" berarti tim nasionalnya, bukan seluruh warga negara.
Eufemisme
Eufemisme berguna dalam bahasa resmi dan surat yang sopan: "tunanetra" bagi orang yang tidak dapat melihat, "penyesuaian harga" bagi kenaikan harga, "dirumahkan" bagi pemutusan hubungan kerja sementara. Hati-hati: eufemisme yang dipakai untuk mengaburkan fakta penting dalam berita atau laporan dapat menyesatkan pembaca.
2. Majas penegasan
Majas penegasan membuat pembaca tidak mungkin melewatkan poin utama.
| No | Majas | Pengertian | Contoh |
|---|---|---|---|
| 10 | Repetisi | Pengulangan kata atau frasa | Belajar, belajar, dan belajar, itulah kuncinya. |
| 11 | Paralelisme | Pengulangan struktur kalimat yang sejajar | Ia rajin membaca, ia rajin menulis, ia rajin bertanya. |
| 12 | Klimaks | Urutan dari yang ringan ke yang paling berat | Anak-anak, remaja, orang dewasa, bahkan para kakek ikut gotong royong. |
| 13 | Antiklimaks | Urutan dari yang paling penting ke yang remeh | Gubernur, bupati, camat, lurah, sampai ketua RT hadir. |
| 14 | Retorik | Pertanyaan yang tidak butuh jawaban | Siapa yang tidak ingin lulus tepat waktu? |
| 15 | Pleonasme (sebagai gaya) | Kata berlebih yang sengaja dipakai untuk menekankan | Aku melihat dengan mata kepala sendiri. |
Pleonasme sebagai majas berbeda dari pleonasme sebagai kesalahan. Dalam tulisan formal, "naik ke atas" dianggap boros. Dalam pidato atau sastra, "dengan mata kepala sendiri" sengaja dipakai untuk meyakinkan. Selengkapnya ada di panduan pleonasme.
Retorik sering dipakai dalam judul dan pidato: "Sampai kapan kita membiarkan sampah menumpuk di sungai?" Pembaca tidak diminta menjawab, tetapi diajak setuju. Klimaks dan antiklimaks sama-sama berurutan, hanya arahnya terbalik, jadi periksa dulu apakah daftar itu naik atau turun bobotnya.
3. Majas pertentangan
| No | Majas | Pengertian | Contoh |
|---|---|---|---|
| 16 | Hiperbola | Melebih-lebihkan | Suaranya menggelegar membelah langit. |
| 17 | Litotes | Merendahkan diri atau mengecilkan kenyataan | Silakan mampir ke gubuk kami yang sederhana. |
| 18 | Paradoks | Tampak bertentangan, tetapi mengandung kebenaran | Di tengah keramaian pasar, ia merasa sangat kesepian. |
| 19 | Antitesis | Dua kata atau gagasan yang berlawanan dipasangkan | Tua muda, kaya miskin, semua berhak memilih. |
| 20 | Oksimoron | Dua kata berlawanan dalam satu frasa | keheningan yang memekakkan |
Hiperbola paling mudah dikenali di dalam puisi dan iklan. Chairil Anwar menulis "Aku mau hidup seribu tahun lagi" dalam puisi "Aku": tidak ada manusia yang hidup seribu tahun, tetapi pembaca langsung paham gelora semangatnya. Litotes sebaliknya: "Ini hanya oleh-oleh kecil" untuk hadiah yang mahal.
Antitesis dan paradoks sering tertukar. Antitesis menaruh dua kata berlawanan berdampingan (tua muda). Paradoks adalah pernyataan utuh yang tampak mustahil tetapi benar secara makna (sepi di tengah keramaian). Oksimoron lebih sempit lagi: dua kata berlawanan yang menyatu dalam satu frasa.
4. Majas sindiran
| No | Majas | Pengertian | Contoh |
|---|---|---|---|
| 21 | Ironi | Menyindir dengan kata yang berlawanan dari maksud | Rajin sekali kamu, jam sepuluh baru bangun. |
| 22 | Sinisme | Sindiran yang lebih tajam, bernada mencemooh | Memang hebat kerjamu, tugas sebanyak ini cuma dikumpul setengahnya. |
| 23 | Sarkasme | Sindiran paling kasar, langsung menyakiti | Dasar otak udang, begini saja tidak paham! |
| 24 | Innuendo | Sindiran halus dengan mengecilkan kenyataan | Ia menjadi kaya karena sering kelebihan kembalian. |
| 25 | Satire | Kritik terhadap keadaan lewat sindiran, sering memakai humor | Karikatur dan esai yang menyindir pejabat yang sering bersepeda hanya saat difoto. |
Tingkat kasarnya naik berurutan: ironi, sinisme, sarkasme. Ironi memakai pujian palsu. Sinisme sudah terang-terangan meremehkan. Sarkasme memakai kata kasar. Dalam tulisan kerja atau akademik, hindari ketiganya kecuali menganalisis teks sastra. Satire dipakai dalam kolom opini, kartun editorial, dan komedi.
Contoh sebelum dan sesudah: menghidupkan kalimat datar
Majas paling bermanfaat saat kamu menulis, bukan hanya menghafal.
Sebelum: "Hujan turun deras dan semua orang cepat-cepat pulang. Suasana jadi sepi."
Sesudah: "Hujan menumpahkan langit ke atas atap seng (personifikasi dan hiperbola). Jalan Pasar Baru berubah seperti sungai yang kehabisan perahu (simile). Dalam hitungan menit, kota yang bising itu kehilangan suaranya (personifikasi)."
Sebelum: "Dia sangat ingin menang."
Sesudah: "Ia ingin menang. Ingin sekali. Ingin sampai tak bisa tidur (repetisi dan klimaks)."
Perhatikan bahwa kalimat sesudah tidak memakai semua majas sekaligus. Satu atau dua kiasan yang tepat lebih berkesan daripada lima kiasan yang bertabrakan.
Majas dalam iklan, berita, dan media sosial
Majas bukan hanya urusan puisi. Slogan iklan memakai hiperbola ("rasa yang tak terlupakan sepanjang masa"), judul berita memakai metonimia ("Istana menanggapi usulan itu" berarti presiden atau juru bicaranya), dan caption media sosial memakai ironi atau retorik supaya mudah dibagikan. Saat menulis konten, tanyakan satu hal: apakah kiasan ini membuat pesan lebih jelas atau hanya lebih ramai? Kalau hanya ramai, buang.
Kesalahan yang sering terjadi
- Majas bertumpuk dan kacau. "Hatinya batu yang terbang di langit" mencampur dua gambar yang tidak nyambung. Satu kalimat, satu gambaran.
- Klise. "Buah bibir", "kembang desa", "banting tulang" sudah dipakai begitu sering sampai tidak terasa kiasannya. Dalam tulisan kreatif, cari perbandingan yang segar.
- Tertukar metafora dengan simile. Cek kata pembandingnya.
- Memakai ironi tanpa konteks. Pembaca teks tertulis tidak mendengar nada suaramu, jadi sindiran bisa terbaca sebagai pujian sungguhan. Di surat dan email kerja, tulislah secara lugas.
- Salah mengira peribahasa sebagai majas. Peribahasa, seperti "air beriak tanda tak dalam", memang berisi kiasan, tetapi dalam kurikulum biasanya dibahas terpisah dari majas.
- Menganggap majas pasti salah di tulisan ilmiah. Karya ilmiah memang mengutamakan bahasa lugas dan terukur, tetapi metafora yang membantu penjelasan masih lazim. Hindari kiasan yang membuat klaim tidak jelas.
Majas di ujian dan di kelas
Soal ujian Bahasa Indonesia biasanya memberi satu kalimat atau bait puisi dan menanyakan jenis majasnya. Strategi yang aman: baca maknanya dulu, baru cocokkan dengan definisi. Jangan menebak dari satu kata. Misalnya "Gedung itu menjulang menyentuh awan" bisa tampak seperti personifikasi, padahal fungsinya melebih-lebihkan tinggi gedung, jadi lebih tepat hiperbola. Kalau dua jawaban sama-sama mungkin, pilih yang paling dominan membentuk kesan kalimat, dan tanyakan kepada guru bila buku acuanmu membedakannya.
Untuk tugas menganalisis puisi, pola jawaban yang rapi adalah: kutip larik, sebut jenis majasnya, jelaskan makna kiasannya, lalu jelaskan efeknya bagi pembaca. Kutip secukupnya dan cantumkan nama penyair serta judulnya. Pedoman penulisan kutipan ada di panduan sitasi APA 7.
Kuis singkat: tentukan jenis majasnya
- "Pikirannya jernih bagai air telaga."
- "Bulan tersenyum menyambut pengantin baru."
- "Aku sudah menunggumu seribu tahun."
- "Tetangga kami orang yang tidak miskin." (maksudnya cukup kaya)
- "Pintar sekali kamu, ulangan jelek tapi tidak belajar."
- "Mau sampai kapan kamu menyia-nyiakan kesempatan ini?"
- "Adik membeli satu Indomie untuk makan malam."
- "Hidup ini indah sekaligus menyakitkan."
Kunci jawaban: (1) simile; (2) personifikasi; (3) hiperbola; (4) litotes; (5) ironi; (6) retorik; (7) metonimia (merek mewakili mi instan); (8) paradoks. Skor 7 sampai 8: kamu sudah mahir. Skor 4 sampai 6: ulangi bagian perbandingan dan pertentangan. Di bawah 4: baca tabel di atas sekali lagi, lalu buat sendiri satu contoh untuk setiap kelompok.
Memakai AdeptWrite untuk latihan majas
Alat berikut membantu latihan menulis, tetapi hasilnya bukan jawaban akhir. Kamu tetap yang menilai apakah kiasannya tepat.
- Generator Puisi & Pantun membuat puisi bebas, berima, akrostik, atau haiku dari tema dan kata pilihanmu. Cari majas di hasilnya sebagai latihan mengenali, lalu tulis ulang larik yang terasa datar.
- Parafrase Online punya mode Kreatif yang menulis ulang kalimat dengan gaya yang lebih hidup. Bandingkan dengan kalimat aslimu dan ambil hanya perubahan yang menjaga maksud.
- Perbaiki Kalimat merapikan kalimat yang kaku atau berbelit, berguna bila kiasanmu membuat kalimat terlalu panjang.
- Cek Ejaan menandai kata tidak baku dan kesalahan penulisan yang ada di daftar pasangan kata baku terverifikasinya (KBBI VI dan EYD V), belum seluruh kosakata. Alat ini tidak mengenali jenis majas.
Rujukan resmi untuk arti kata, termasuk makna kiasan dan makna denotatif, adalah KBBI daring dari Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa, Kemendikdasmen. Bila kamu juga menulis kalimat panjang dengan kiasan, baca panduan kalimat efektif agar kiasannya tidak membuat kalimat bertele-tele.
Daftar periksa menulis dengan majas
- Apakah kiasan ini membantu pembaca memahami atau merasakan sesuatu?
- Apakah hanya satu gambaran per kalimat?
- Apakah perbandingannya segar, bukan klise yang dipakai semua orang?
- Apakah nada sindiran aman untuk pembaca yang kamu tuju?
- Apakah kamu bisa menyebut jenis majasnya bila ditanya guru atau dosen?
Coba alatnya
Pertanyaan umum
Apa perbedaan majas dan peribahasa?
Majas adalah gaya bahasa dengan makna kiasan yang bisa kamu buat sendiri, seperti metafora atau hiperbola. Peribahasa adalah ungkapan tetap yang sudah dikenal turun-temurun, misalnya "air beriak tanda tak dalam". Peribahasa memang berisi kiasan, tetapi di sekolah biasanya dipelajari terpisah.
Apa beda metafora dan personifikasi?
Metafora menyamakan dua hal tanpa kata pembanding, misalnya "Ibu adalah matahari rumah". Personifikasi memberi sifat atau tindakan manusia kepada benda atau hewan, misalnya "angin berbisik". Keduanya bisa muncul dalam satu kalimat, tetapi yang ditanyakan berbeda: perbandingan atau sifat manusia.
Apa beda ironi, sinisme, dan sarkasme?
Ketiganya sindiran dengan tingkat kasar berbeda. Ironi menyindir halus dengan pujian palsu, sinisme meremehkan terang-terangan, dan sarkasme memakai kata kasar yang langsung menyakiti. Dalam tulisan formal dan komunikasi kerja, lebih baik hindari ketiganya dan menyampaikan kritik secara lugas.
Apakah boleh memakai majas dalam skripsi atau karya ilmiah?
Karya ilmiah mengutamakan bahasa lugas, terukur, dan bisa diverifikasi, jadi majas sebaiknya dipakai sangat hemat. Perbandingan yang membantu menjelaskan konsep masih wajar, tetapi hindari hiperbola, sindiran, atau kiasan yang membuat klaim menjadi kabur. Ikuti pedoman penulisan kampus atau jurnalmu.
Panduan terkait
- Pleonasme: Contoh Kata Mubazir (Naik ke Atas, Para Hadirin Sekalian, Sangat ... Sekali) — Pleonasme adalah pemakaian kata yang berlebihan karena maknanya sudah terkandung dalam kata lain, misalnya "naik ke atas…
- 50+ Contoh Kalimat Efektif dan Tidak Efektif (Lengkap dengan Perbaikannya) — Kalimat efektif adalah kalimat yang pesannya sampai ke pembaca tepat seperti yang dimaksud penulis. Ia memenuhi lima sya…
- Jenis-Jenis Karangan: Narasi, Deskripsi, Eksposisi, Argumentasi, dan Persuasi, Lengkap dengan Ciri dan Contoh — Karangan dibagi menjadi lima jenis menurut tujuannya: narasi menceritakan peristiwa, deskripsi melukiskan objek, eksposi…
- Hikayat: Pengertian, Ciri-Ciri, Unsur Intrinsik, Kosakata Klasik, dan Contohnya — Hikayat adalah karya sastra Melayu lama berbentuk prosa yang mengisahkan kehidupan raja, bangsawan, atau tokoh sakti den…