Pleonasme: Contoh Kata Mubazir (Naik ke Atas, Para Hadirin Sekalian, Sangat ... Sekali)
Pleonasme adalah pemakaian kata yang berlebihan karena maknanya sudah terkandung dalam kata lain, misalnya "naik ke atas", "para hadirin sekalian", atau "sangat indah sekali". Cara memperbaikinya: buang salah satu kata yang maknanya kembar. Hasilnya kalimat efektif yang lebih ringkas dan tegas, tanpa mengubah maksud.
Apa itu pleonasme?
Pleonasme adalah pemakaian kata yang melebihi keperluan: sebuah kata ditambahkan padahal maknanya sudah ada di kata lain dalam kalimat yang sama. Dalam pelajaran bahasa Indonesia, pleonasme dibahas bersama kalimat efektif karena kalimat yang bertele-tele mengaburkan pokok pikiran. Kata lain yang sering muncul untuk gejala ini adalah kata mubazir, yaitu kata yang boleh dibuang tanpa mengurangi arti.
Contoh paling terkenal: "Dia naik ke atas." Kata naik sudah berarah ke atas, jadi "ke atas" berlebihan. Cukup tulis "Dia naik." Kalau arah memang perlu ditonjolkan, ganti kata kerjanya: "Dia menaiki tangga."
Satu catatan jujur: tidak semua pengulangan makna dianggap salah. Dalam sastra, pidato, dan percakapan, pengulangan kadang sengaja dipakai untuk menekankan. Aturan di bawah ini berlaku terutama untuk tulisan formal seperti skripsi, makalah, surat dinas, dan berita.
Jenis pleonasme beserta contoh
1. Arah yang sudah terkandung dalam kata kerja
| Tidak efektif | Efektif | Alasan |
|---|---|---|
| naik ke atas | naik | Naik sudah berarah ke atas |
| turun ke bawah | turun | Turun sudah berarah ke bawah |
| masuk ke dalam | masuk | Masuk sudah berarah ke dalam |
| keluar dari luar | keluar | Keluar sudah berarah ke luar |
| maju ke depan | maju | Maju sudah berarah ke depan |
| mundur ke belakang | mundur | Mundur sudah berarah ke belakang |
Contoh kalimat: "Mahasiswa itu maju ke depan untuk mempresentasikan hasil penelitiannya." Perbaikan: "Mahasiswa itu maju untuk mempresentasikan hasil penelitiannya."
2. Jamak ganda
Kata para sudah menandakan jamak (lebih dari satu orang). Menambahkan sekalian, semua, atau mengulang kata benda menghasilkan penjamakan ganda.
| Tidak efektif | Efektif |
|---|---|
| para hadirin sekalian | hadirin sekalian, atau hadirin |
| para guru-guru | para guru |
| banyak mahasiswa-mahasiswa | banyak mahasiswa |
| beberapa hal-hal | beberapa hal |
| semua peserta-peserta | semua peserta |
Catatan tentang "hadirin": kata hadirin sudah berarti orang-orang yang hadir (jamak), jadi "para hadirin" dianggap berlebihan dalam bahasa baku. Dalam sambutan lisan, "para hadirin sekalian" masih sangat sering terdengar, dan ada pula yang menganggap salam pembuka tradisional bernada khidmat. Untuk tulisan formal, pilih "Hadirin yang kami hormati". Cek bentuk baku di KBBI daring bila ragu.
3. Penguat ganda: sangat ... sekali
Kata sangat dan sekali sama-sama menyatakan tingkat yang tinggi. Memakai keduanya sekaligus adalah pleonasme.
| Tidak efektif | Efektif |
|---|---|
| sangat indah sekali | sangat indah, atau indah sekali |
| sangat penting sekali | sangat penting |
| amat bagus sekali | amat bagus |
| sangat banyak sekali | sangat banyak |
| paling terbaik | terbaik |
Contoh: "Hasil penelitian ini sangat penting sekali bagi kebijakan kampus." Perbaikan: "Hasil penelitian ini sangat penting bagi kebijakan kampus."
4. Kata penghubung dan preposisi berlebihan
| Tidak efektif | Efektif | Catatan |
|---|---|---|
| agar supaya | agar, atau supaya | Dua kata berfungsi sama |
| demi untuk | demi, atau untuk | |
| adalah merupakan | adalah, atau merupakan | Pilih satu |
| sehingga oleh karena itu | sehingga, atau oleh karena itu | |
| seperti misalnya | misalnya, atau seperti | |
| apabila jika | apabila, atau jika | |
| kemudian lalu | kemudian, atau lalu |
Contoh yang sering muncul di skripsi: "Penelitian ini adalah merupakan penelitian kualitatif." Perbaikan: "Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif."
5. Makna kembar dalam frasa
| Tidak efektif | Efektif | Alasan |
|---|---|---|
| berbagai macam jenis | berbagai jenis | Berbagai, macam, dan jenis sama-sama menyatakan keragaman |
| kembali lagi | kembali | Kembali sudah berarti sekali lagi |
| saling tolong-menolong | tolong-menolong | Bentuk ulang berimbuhan sudah resiprokal |
| saling memukul satu sama lain | saling memukul | |
| para ibu-ibu | para ibu, atau ibu-ibu | |
| hanya ... saja | hanya, atau saja | "Dia hanya makan nasi saja" |
| diperkirakan sekitar | diperkirakan, atau sekitar | |
| mengulang kembali | mengulang | Mengulang sudah berarti kembali |
| beberapa orang-orang | beberapa orang |
6. Pleonasme yang disengaja
Ungkapan "satu-satunya", "sekali lagi", "lebih dari itu" bukan pleonasme dalam konteks tertentu. Begitu pula pengulangan yang disengaja dalam pantun atau pidato: "kata demi kata, sedikit demi sedikit". Yang diperiksa dalam tulisan formal adalah kata yang benar-benar tidak menambah arti.
Cara menemukan dan memangkas kata mubazir
- Tanyakan: bisakah dibuang tanpa mengubah arti? Kalau bisa, buang.
- Cari pasangan kata berarah. Setiap kali muncul naik, turun, masuk, keluar, maju, mundur, periksa apakah sesudahnya ada "ke atas/bawah/dalam/luar/depan/belakang".
- Periksa kata penguat. Kata sangat, amat, sekali, paling, lebih sebaiknya dipakai satu per kalimat.
- Periksa jamak. Para, banyak, beberapa, semua tidak perlu diikuti kata ulang.
- Baca keras-keras. Kalimat yang terdengar bertele-tele biasanya mengandung pleonasme.
- Hitung kata sebelum dan sesudah. Hasil penyuntingan yang baik sering lebih pendek, tetapi tidak harus. Jangan memangkas sampai makna hilang.
Contoh sebelum dan sesudah
Skripsi. Sebelum: "Para mahasiswa-mahasiswa tersebut kemudian lalu masuk ke dalam ruangan untuk melaksanakan pengisian kuesioner agar supaya data penelitian dapat terkumpul." Sesudah: "Para mahasiswa itu masuk ke ruangan untuk mengisi kuesioner agar data penelitian terkumpul."
Surat lamaran. Sebelum: "Saya sangat berminat sekali untuk bergabung di perusahaan Bapak, dan saya adalah merupakan lulusan baru." Sesudah: "Saya sangat berminat bergabung di perusahaan Bapak. Saya lulusan baru."
Sambutan kantor. Sebelum: "Bapak Direktur, para hadirin sekalian, mari kita bersama-sama saling bekerja sama." Sesudah: "Bapak Direktur dan hadirin sekalian, mari kita bekerja sama."
Berita. Sebelum: "Banjir naik ke atas hingga setinggi sekitar kurang lebih satu meter." Sesudah: "Banjir naik hingga setinggi sekitar satu meter."
Pleonasme dalam konteks ujian dan tulisan resmi
Materi pleonasme muncul dalam pelajaran kalimat efektif di sekolah dan dalam soal tes kemampuan verbal (misalnya subtes verbal pada tes seleksi CPNS) yang meminta kamu memilih kalimat efektif. Bentuk soal bisa berbeda tiap tahun, jadi pelajari polanya, bukan hafalan satu daftar. Di kampus, dosen pembimbing sering mencoret pleonasme di bab pendahuluan dan pembahasan. Dalam surat dinas dan siaran pers, kalimat yang ringkas juga lebih mudah dipahami. Latihan lebih lanjut ada di contoh kalimat efektif dan tidak efektif.
Pleonasme, tautologi, dan hiperkorek: jangan tertukar
Tiga istilah ini sering dicampur dalam pelajaran bahasa. Pleonasme berarti menambahkan kata yang tidak perlu karena maknanya sudah ada, misalnya "mundur ke belakang". Tautologi berarti mengulang gagasan yang sama dengan kata berbeda dalam satu kalimat, misalnya "Dia kaya raya dan banyak hartanya". Hiperkorek adalah kesalahan karena terlalu ingin benar, misalnya menulis "syah" padahal bentuk bakunya "sah". Ketiganya membuat tulisan terasa janggal, tetapi cara memperbaikinya berbeda: pleonasme dan tautologi diperbaiki dengan membuang, hiperkorek dengan memeriksa bentuk baku di kamus. Dalam praktik penyuntingan, kamu tidak harus selalu menyebut jenisnya. Cukup tanyakan apakah setiap kata memberi informasi baru.
Latihan singkat
Perbaiki kalimat berikut, lalu cocokkan dengan kunci di bawahnya.
- Para peserta-peserta seminar itu turun ke bawah menuju aula.
- Kita harus saling bekerja sama demi untuk kemajuan bersama.
- Laporan tersebut sangat lengkap sekali isinya.
- Dia hanya membaca buku itu saja.
Kunci yang mungkin: (1) "Para peserta seminar itu turun menuju aula." (2) "Kita harus bekerja sama demi kemajuan bersama." (3) "Laporan tersebut sangat lengkap." (4) "Dia hanya membaca buku itu." Ada lebih dari satu perbaikan yang benar; yang penting satu makna tidak dinyatakan dua kali. Setelah selesai, coba periksa tulisanmu sendiri dengan cara yang sama: tandai setiap kata penguat dan setiap frasa arah, lalu putuskan mana yang benar-benar dibutuhkan.
Kesalahan terkait yang sering ikut muncul
- Salah ejaan. Bentuk seperti "di mana" yang ditulis "dimana" atau "silahkan" yang seharusnya "silakan" bukan pleonasme, tetapi sering muncul berdampingan. Cek di daftar kata baku dan tidak baku.
- Pleonasme bukan selalu salah tata bahasa. Kalimatnya bisa gramatikal, hanya tidak efisien. Karena itu alat pemeriksa grammar tidak selalu menandainya.
- Berlebihan memangkas. "Dia mengambil dan membawa buku itu" tidak selalu pleonasme, karena dua kegiatan berbeda.
Memakai AdeptWrite untuk memangkas kata mubazir
Perbaiki Kalimat merapikan kalimat yang kaku, rancu, atau berbelit dalam mode Standar atau Formal; bandingkan hasilnya dengan kalimat aslimu dan terima hanya perubahan yang menjaga maksud. Pemendek dan Pemanjang Kalimat punya mode Ringkas untuk memperpendek kalimat, tetapi mode ini bisa menghapus informasi, jadi baca ulang. Cek Ejaan mencocokkan kata dengan KBBI dan EYD Edisi V untuk menemukan typo dan kata tidak baku, namun alat ini tidak dirancang khusus menandai pleonasme. Gunakan daftar di atas sebagai pedoman utama, lalu pakai alat sebagai pembanding kedua.
Coba alatnya
Pertanyaan umum
Apa yang dimaksud dengan pleonasme?
Pleonasme adalah pemakaian kata berlebihan karena maknanya sudah terkandung dalam kata lain di kalimat yang sama, seperti "naik ke atas" atau "agar supaya". Dalam tulisan formal, salah satu kata dibuang agar kalimat efektif tanpa mengubah maksud.
Apakah "para hadirin sekalian" salah?
Dalam bahasa baku, kata hadirin sudah bermakna jamak, sehingga "para" dianggap berlebihan. Dalam pidato lisan frasa ini sangat umum. Untuk tulisan resmi, pakai "Hadirin yang kami hormati" atau "Bapak dan Ibu sekalian", lalu cek kata di KBBI jika ragu.
Apa beda pleonasme dan kata mubazir?
Dalam penggunaan sehari-hari keduanya hampir sama. Pleonasme adalah istilah kebahasaan untuk kata berlebihan, sedangkan kata mubazir adalah sebutan umum untuk kata yang boleh dibuang tanpa mengurangi arti. Dalam pelajaran kalimat efektif, keduanya dibahas bersama.
Bolehkah memakai "sangat ... sekali" dalam tulisan?
Dalam tulisan formal sebaiknya pilih salah satu penguat: "sangat indah" atau "indah sekali". Menggabungkan keduanya dianggap pleonasme. Dalam percakapan, dialog, atau gaya santai, orang kadang sengaja memakainya untuk penekanan.
Panduan terkait
- 50+ Contoh Kalimat Efektif dan Tidak Efektif (Lengkap dengan Perbaikannya) — Kalimat efektif adalah kalimat yang pesannya sampai ke pembaca tepat seperti yang dimaksud penulis. Ia memenuhi lima sya…
- Daftar Kata Baku dan Tidak Baku Menurut KBBI dan EYD V — Kata baku adalah kata yang ejaannya sesuai KBBI dan EYD V; kata tidak baku menyimpang dari keduanya, misalnya aktifitas,…
- 30 Kesalahan Ejaan Bahasa Indonesia yang Paling Sering Terjadi (dan Perbaikannya) — Kesalahan ejaan yang paling sering terjadi dalam bahasa Indonesia umumnya berpola: praktek (praktik), resiko (risiko), m…
- Kata yang Sering Tertukar dalam Bahasa Indonesia (dari/daripada, di/pada, adalah/ialah, sangsi/sanksi) — Kata yang sering tertukar dalam bahasa Indonesia umumnya mirip bunyi atau maknanya: dari dan daripada, di dan pada, adal…
- 50 Kata Tidak Baku yang Sering Muncul di Skripsi (dan Penggantinya) — Kata tidak baku di skripsi paling sering berupa serapan yang salah ejaan, seperti analisa (baku: analisis), praktek (pra…