Sekolah, kuliah & skripsi

Cara Membuat Karangan untuk Tugas Sekolah: Kerangka, Langkah, dan Contoh SD sampai SMA

Tim Editorial AdeptWriteDiperbarui 8 menit baca

Karangan yang baik dibuat dalam lima langkah: pilih tema dan jenis karangan, susun kerangka, tulis paragraf pembuka, isi, dan penutup, lalu periksa ejaan dan kalimat. Untuk tugas sekolah, narasi menceritakan kejadian berurutan, sedangkan deskripsi melukiskan satu objek dengan pancaindra. Panduan ini memberi kerangka dan satu contoh untuk SD, SMP, dan SMA.

Jawaban singkat: karangan dibuat dari kerangka, bukan dari kalimat pertama

Karangan adalah tulisan utuh yang mengembangkan satu tema menjadi beberapa paragraf yang saling berkaitan. Cara paling aman membuatnya: tentukan tema, pilih jenis karangan, tulis kerangka dua sampai lima butir, kembangkan setiap butir menjadi satu paragraf, lalu baca ulang untuk memperbaiki ejaan dan kalimat. Siswa yang langsung menulis tanpa kerangka biasanya macet di paragraf kedua atau mengulang hal yang sama.

Lima langkah ringkasnya:

  1. Pilih tema dan jenis karangan. Ikuti perintah guru: narasi, deskripsi, eksposisi, argumentasi, atau persuasi.
  2. Tulis kerangka karangan. Cukup butir-butir pendek yang menunjukkan urutan isi.
  3. Tulis paragraf pembuka. Kenalkan tema, tokoh, atau objek yang akan dibahas.
  4. Kembangkan isi. Satu butir kerangka menjadi satu paragraf, lengkap dengan contoh atau rincian.
  5. Tulis penutup lalu periksa. Akhiri dengan kesan atau pesan, kemudian cek ejaan, tanda baca, dan keefektifan kalimat.

Kenali dulu jenis karangan yang diminta

Di pelajaran Bahasa Indonesia, karangan dibedakan menurut tujuannya. Dua jenis yang paling sering diminta pada tugas dan ulangan adalah narasi dan deskripsi. Jenis lain dibahas di jenis-jenis karangan.

JenisTujuanCiri utamaContoh judul
NarasiMenceritakan rangkaian kejadianAda tokoh, latar, alur, dan urutan waktuPengalaman Pertama Naik Kereta ke Rumah Nenek
DeskripsiMelukiskan objek agar pembaca seakan melihatnyaRincian pancaindra: penglihatan, pendengaran, penciuman, perasa, perabaSuasana Pasar Pagi di Kampungku
EksposisiMenjelaskan atau memberi informasiFakta, penjelasan, urutan logisManfaat Memilah Sampah di Rumah
ArgumentasiMeyakinkan dengan alasan dan buktiPendapat, data, dan kesimpulanMengapa Siswa Perlu Membaca Buku Setiap Hari
PersuasiMengajak pembaca bertindakAjakan, bahasa membujukAyo Jaga Kebersihan Kelas Kita

Bila perintahnya hanya "buatlah karangan tentang liburanmu", pilihlah narasi: kamu tinggal menceritakan apa yang terjadi dari awal sampai akhir. Bila perintahnya "gambarkan", "lukiskan", atau "deskripsikan", pilihlah deskripsi.

Langkah 1: pilih tema yang sempit dan dekat denganmu

Tema yang luas membuat karangan dangkal. "Liburan" terlalu umum; "Liburan Sekolah di Rumah Kakek di Klaten" cukup khusus untuk ditulis tiga atau empat paragraf. Prinsip yang sama berlaku untuk deskripsi: "Sekolahku" sulit dijelaskan, sedangkan "Perpustakaan Sekolahku di Siang Hari" langsung memberi gambaran.

Pilih hal yang benar-benar kamu ketahui: pengalaman sendiri, tempat yang sering kamu kunjungi, kegiatan keluarga, atau kejadian di sekolah. Rincian nyata lebih meyakinkan daripada cerita yang dikarang-karang agar terdengar hebat.

Langkah 2: susun kerangka karangan

Kerangka karangan adalah daftar butir yang menunjukkan isi setiap paragraf. Cara lengkap menyusunnya ada di cara membuat kerangka karangan, tetapi untuk tugas sekolah pola berikut sudah cukup.

Kerangka narasi (alur maju):

  1. Pembuka: tokoh, tempat, dan waktu
  2. Awal peristiwa: apa yang membuka cerita
  3. Puncak: kejadian paling menegangkan atau paling berkesan
  4. Penyelesaian: bagaimana kejadian itu berakhir
  5. Penutup: perasaan atau pelajaran yang didapat

Kerangka deskripsi (dari umum ke khusus):

  1. Pembuka: nama objek dan kesan pertama
  2. Bagian pertama objek (misalnya bagian depan)
  3. Bagian kedua (misalnya bagian dalam)
  4. Suasana: bunyi, bau, dan kegiatan di sana
  5. Penutup: kesan keseluruhan

Jika kamu butuh titik awal, Generator Outline bisa menyusun kerangka dari satu topik dengan mode Esai. Anggap hasilnya draf: hapus butir yang tidak cocok dengan pengalamanmu dan ganti dengan rincian milikmu sendiri.

Langkah 3: tulis paragraf pembuka

Paragraf pembuka memperkenalkan tema dan membuat pembaca ingin lanjut. Tidak perlu kalimat berbunga-bunga. Cukup sebutkan siapa, di mana, dan kapan, atau langsung masuk ke kesan pertama.

Pembuka yang lemah:

Pada hari ini saya akan menceritakan tentang pengalaman saya. Pengalaman saya sangat menarik sekali.

Pembuka yang lebih baik:

Pagi itu, Minggu pertama bulan Juli, saya dan Ayah berangkat ke rumah Kakek di Klaten dengan kereta. Itu pertama kalinya saya duduk di dekat jendela dan melihat sawah berlari ke belakang.

Perbedaannya: versi kedua punya waktu, tempat, tokoh, dan satu gambaran yang bisa dibayangkan. Versi pertama hanya mengumumkan bahwa cerita akan datang, dan memakai "sangat menarik sekali" yang berlebihan (kata "sangat" dan "sekali" mengulang makna yang sama).

Langkah 4: kembangkan isi, satu butir satu paragraf

Satu paragraf punya satu gagasan pokok yang dijelaskan dengan beberapa kalimat penjelas. Untuk tugas sekolah, tiga sampai lima kalimat per paragraf sudah memadai. Pola ini dijelaskan lebih rinci di cara membuat paragraf dan kalimat utama.

Dua kebiasaan yang membuat isi karangan hidup:

  • Tunjukkan, jangan hanya menyebut perasaan. Daripada "Saya sangat senang", tulis "Saya melompat dan berteriak sampai Ayah menutup telinga."
  • Pakai kata penghubung agar paragraf mengalir. Pada narasi: kemudian, setelah itu, tak lama kemudian, akhirnya. Pada deskripsi: di sebelah kiri, di belakangnya, tepat di tengah. Daftar lengkapnya ada di kata penghubung antarkalimat.

Untuk melatih satu paragraf saja, Generator Paragraf menyediakan mode Narasi dan Deskripsi. Masukkan ide pokoknya, lalu bacalah hasilnya sebagai contoh bentuk, bukan sebagai jawaban akhir. Tulis ulang dengan rincian pengalamanmu.

Langkah 5: tulis penutup, lalu periksa

Penutup tidak perlu panjang. Pada narasi, akhiri dengan perasaan atau pelajaran dari kejadian itu. Pada deskripsi, rangkum kesan keseluruhan. Hindari penutup klise seperti "Demikianlah karangan saya, terima kasih" kecuali guru memintanya.

Sesudah itu baca karangan dengan suara pelan dan periksa tiga hal: ejaan dan tanda baca, kalimat yang bertele-tele, serta urutan paragraf. Rujukan ejaan resmi adalah Ejaan Bahasa Indonesia yang Disempurnakan Edisi V (EYD V) dan kamus resmi adalah KBBI, keduanya diterbitkan oleh Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa, Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah. Perubahan dari PUEBI ke EYD V dibahas di EYD Edisi V.

Contoh karangan per jenjang

Tiga contoh berikut pendek agar mudah dipelajari bentuknya. Pakailah sebagai model susunan, jangan disalin untuk tugasmu; guru biasanya mengharapkan pengalaman dan kata-katamu sendiri.

Contoh SD (kelas 3 sampai 4): narasi sederhana

Judul: Hari Pertama Memelihara Kucing

Minggu lalu Ibu membawa pulang seekor kucing kecil. Bulunya putih dan matanya biru. Saya menamainya Mimi.

Sore itu Mimi bersembunyi di bawah kursi. Saya meletakkan sepiring susu di dekatnya. Lama-lama Mimi keluar dan minum dengan hati-hati.

Malam harinya Mimi tidur di pangkuan saya. Saya senang sekali. Mulai besok saya akan memberinya makan setiap pagi.

Ciri jenjang SD: kalimat pendek, satu peristiwa, urutan waktu jelas, dan kata ganti orang pertama.

Contoh SMP (kelas 7 sampai 9): deskripsi dengan pancaindra

Judul: Pasar Pagi di Kampungku

Setiap pukul lima pagi, pasar di ujung jalan kampungku sudah ramai. Atap seng yang berembun memantulkan cahaya lampu kuning dari lapak-lapak pedagang.

Di barisan depan, para pedagang sayur menata bayam, kangkung, dan cabai merah di atas terpal. Aroma tanah basah dari sayuran bercampur dengan wangi gorengan dari warung di pojok. Suara tawar-menawar bersahutan dengan bunyi timbangan yang berdenting.

Pasar itu bukan sekadar tempat berbelanja. Bagiku, pasar pagi adalah tempat warga kampung saling menyapa sebelum memulai hari.

Ciri jenjang SMP: rincian dari beberapa indra, urutan ruang (depan ke dalam), dan kalimat penutup yang memberi makna.

Contoh SMA (kelas 10 sampai 12): narasi reflektif

Judul: Kegagalan Pertama dalam Lomba Debat

Kekalahan itu terasa lebih berat daripada nilai ulangan terburuk yang pernah saya terima. Di depan juri dan teman-teman satu sekolah, argumen yang telah saya latih berminggu-minggu mendadak lenyap.

Setelah turun dari panggung, saya hanya duduk diam. Pembina debat menghampiri dan bertanya satu hal yang sampai sekarang saya ingat: apa yang bisa kamu pelajari dari lima menit tadi?

Pertanyaan itu mengubah cara saya memandang lomba. Sejak itu saya mencatat kesalahan setiap latihan, bukan hanya hasil akhirnya. Kegagalan hari itu ternyata menjadi alasan saya bertahan di ekstrakurikuler debat.

Ciri jenjang SMA: ada konflik batin, kalimat lebih bervariasi, dan penutup berupa refleksi. Untuk karangan yang bersifat argumentatif atau eksposisi, lihat teks eksposisi dan teks argumentasi.

Sebelum dan sesudah: memperbaiki kalimat karangan

Kalimat yang berbelit adalah masalah paling umum pada karangan siswa. Contoh perbaikannya:

SebelumSesudahMengapa
Pada hari Minggu itu saya pergi ke rumah nenek saya yang ada di desa untuk berlibur di sana.Pada hari Minggu itu saya berlibur ke rumah nenek di desa."Di sana" mengulang makna "di desa".
Adik saya menangis dengan suara yang sangat keras sekali.Adik saya menangis keras."Sangat" dan "sekali" berlebihan; cukup satu penguat atau tidak sama sekali.
Lalu setelah itu kemudian kami pulang.Setelah itu kami pulang.Tiga kata penghubung bermakna sama.
Banyak para siswa datang.Banyak siswa datang."Banyak" dan "para" sama-sama menunjukkan jamak.

Pelajari pola serupa di contoh kalimat efektif dan tidak efektif dan pleonasme.

Kesalahan yang sering terjadi pada karangan sekolah

  • Tidak ada kerangka. Cerita melompat-lompat atau berhenti tiba-tiba.
  • Satu paragraf berisi semua hal. Pisahkan setiap gagasan menjadi paragraf sendiri.
  • Pembuka yang hanya mengumumkan. "Pada kesempatan kali ini saya akan menulis karangan" tidak memberi apa-apa.
  • Menyebut perasaan tanpa gambaran. "Sangat bahagia" kurang kuat dibanding tindakan atau peristiwa yang menunjukkannya.
  • Awalan di- tertukar dengan kata depan di. Tulis dibawa serangkai, tetapi di rumah terpisah. Lihat penulisan di dan ke.
  • Huruf kapital dan koma terabaikan. Awal kalimat, nama orang, nama tempat, dan nama bulan perlu huruf kapital. Lihat aturan huruf kapital.
  • Judul terlalu umum atau tidak ada. Judul sebaiknya menyebut isi karangan secara khusus.

Daftar periksa sebelum dikumpulkan

  • Jenis karangan sesuai perintah guru (narasi, deskripsi, atau lainnya).
  • Ada judul yang spesifik dan ditulis dengan huruf kapital yang benar.
  • Ada paragraf pembuka, isi, dan penutup.
  • Setiap paragraf membahas satu gagasan pokok.
  • Urutan peristiwa (narasi) atau urutan ruang (deskripsi) jelas.
  • Ada rincian nyata, bukan hanya kata sifat umum seperti "bagus" atau "menarik".
  • Tidak ada kata yang berulang-ulang atau bermakna sama dalam satu kalimat.
  • Ejaan, tanda baca, dan huruf kapital sudah dicek.
  • Jumlah kata atau halaman sesuai permintaan guru.
  • Tulisan benar-benar karyamu sendiri.

Memakai alat AdeptWrite untuk latihan karangan

Semua alat berikut gratis dengan batas 6.000 karakter per proses, cukup untuk karangan sekolah satu atau dua halaman. Hasil alat adalah bahan belajar yang harus kamu baca dan putuskan sendiri.

  • Generator Outline menyusun kerangka tulisan dari satu topik. Pakai sebagai titik awal, lalu ganti butirnya dengan pengalamanmu.
  • Generator Paragraf punya mode Narasi dan Deskripsi untuk melihat bentuk satu paragraf dari ide pokokmu.
  • Perbaiki Kalimat merapikan kalimat yang kaku atau rancu; bandingkan dengan kalimat asalmu agar kamu paham apa yang berubah.
  • Cek Ejaan mencocokkan teks dengan KBBI dan EYD V untuk menemukan typo dan kata tidak baku.
  • Cek Grammar memeriksa tata bahasa dan tanda baca. Seperti pemeriksa otomatis lain, ia bisa melewatkan kesalahan atau menandai hal yang sebenarnya benar, jadi tetap baca ulang sendiri.

Aturan penggunaan alat bantu, termasuk AI, berbeda di tiap sekolah. Tanyakan kepada gurumu sebelum memakainya, dan kumpulkan hanya karangan yang kamu pahami dan sanggup jelaskan.

Ringkasan

Karangan yang baik berawal dari tema sempit, jenis karangan yang tepat, dan kerangka sederhana. Tulis satu paragraf untuk setiap butir, tunjukkan peristiwa dan rincian nyata, lalu periksa ejaan dan kalimat sebelum dikumpulkan. Mulailah dari contoh sesuai jenjangmu, lalu ganti isinya dengan pengalamanmu sendiri.

Coba alatnya

Generator Outline (Kerangka Tulisan)
Susun kerangka artikel, esai, skripsi, atau presentasi dari satu topik.
Buka alat
Generator Paragraf
Satu paragraf pembuka, isi, atau penutup—atau paragraf deskripsi, eksposisi, narasi, argumentasi, persuasi—dari ide pokokmu.
Buka alat
Perbaiki Kalimat
Rapikan kalimat yang kaku, rancu, atau berbelit.
Buka alat
Cek Ejaan & Typo (EYD V)
Temukan typo dan kata tidak baku (dicocokkan dengan KBBI dan EYD V), langsung di browser.
Buka alat
Cek Grammar Bahasa Indonesia
Periksa tata bahasa, ejaan, dan tanda baca: bahasa Indonesia sesuai EYD Edisi V, juga bahasa Inggris dan bahasa lain.
Buka alat

Pertanyaan umum

Berapa paragraf karangan sekolah yang ideal?

Tidak ada angka baku. Karangan SD sering tiga sampai empat paragraf, SMP dan SMA lima paragraf atau lebih, tergantung perintah guru. Yang penting ada pembuka, isi, dan penutup, dan setiap paragraf membahas satu gagasan. Patuhi jumlah kata atau halaman yang diminta pada soal.

Apa beda karangan narasi dan karangan deskripsi?

Narasi menceritakan rangkaian peristiwa berurutan waktu dengan tokoh, latar, dan alur. Deskripsi melukiskan satu objek, tempat, atau suasana dengan rincian pancaindra tanpa harus ada alur. Narasi menjawab "apa yang terjadi", sedangkan deskripsi menjawab "seperti apa".

Apakah kerangka karangan wajib dibuat?

Tidak selalu dinilai, tetapi sangat membantu. Kerangka membuat urutan isi jelas dan mencegah pengulangan. Pada ulangan dengan waktu terbatas, cukup tulis tiga sampai lima butir singkat di kertas coret sebelum mulai menulis. Beberapa guru memang meminta kerangka dikumpulkan bersama karangan.

Bagaimana agar karangan tidak terdengar membosankan?

Pakai rincian nyata dari pengalamanmu: bunyi, bau, warna, atau ucapan seseorang. Variasikan panjang kalimat, hindari kata penguat berlebihan seperti "sangat sekali", dan tunjukkan perasaan lewat tindakan. Baca ulang dengan suara keras untuk menemukan kalimat yang terdengar berbelit.

Semua panduan