Parafrase

Perbedaan Ringkasan, Parafrase, dan Kutipan (Kapan Memakai yang Mana)

Tim Editorial AdeptWriteDiperbarui 9 menit baca

Ringkasan memendekkan isi sumber menjadi gagasan pokoknya. Parafrase menulis ulang satu gagasan dengan panjang yang kurang lebih sama, memakai kalimat sendiri. Kutipan langsung menyalin kata demi kata dengan tanda petik. Ketiganya wajib menyebut sumber; yang berbeda adalah panjang, kata-kata yang dipakai, dan cara menandainya, misalnya nomor halaman pada kutipan langsung.

Jawaban singkat: bedanya ada di panjang, kata, dan tanda

Tiga cara memakai sumber ini sering tertukar karena semuanya berakhir dengan "menurut siapa". Pegang tiga pertanyaan ini:

  • Kata-katanya siapa? Kalau kata-kata penulis asli kamu salin persis, itu kutipan langsung. Kalau kata-katanya milikmu, itu ringkasan atau parafrase.
  • Seberapa panjang hasilnya dibanding sumber? Kalau jauh lebih pendek karena hanya inti yang diambil, itu ringkasan. Kalau panjangnya kurang lebih sama karena semua gagasan dalam bagian itu tetap ada, itu parafrase.
  • Apa yang kamu lakukan dengan sumbernya? Mengutip dipakai ketika bunyi kalimatnya sendiri penting. Memparafrase dipakai ketika yang penting gagasan rinciannya. Meringkas dipakai ketika pembaca cukup tahu garis besarnya.

Satu hal berlaku untuk ketiganya: sumber tetap harus disebut. Meringkas atau memparafrase tidak membuat gagasan itu menjadi milikmu. Itu sebabnya pembahasan ini selalu berujung ke sitasi, bukan hanya ke gaya menulis.

Tabel perbandingan

Kutipan langsungParafraseRingkasan
Panjang dibanding sumberSama persis, biasanya hanya satu-dua kalimatKurang lebih samaJauh lebih pendek
Kata-kataMilik penulis asli, disalin tanpa ubahMilikmu, susunan kalimat baruMilikmu
Isi yang dibawaSatu bunyi kalimatSatu gagasan lengkap dengan rinciannyaGagasan pokok saja
Tanda petikWajib (atau format blok bila panjang)Tidak adaTidak ada
Sitasi dalam teksPenulis, tahun, dan nomor halamanPenulis dan tahunPenulis dan tahun
Kapan dipakaiDefinisi resmi, rumusan hukum, kalimat yang berpengaruhMengolah argumen atau data satu sumber ke dalam alurmuLatar belakang, tinjauan pustaka, ikhtisar bab atau artikel
Risiko utamaTerlalu banyak kutipan sehingga tulisan terdengar seperti tempelanTambal sulam: hanya sinonim digantiMakna bergeser karena terlalu dipadatkan

Satu paragraf sumber, diolah tiga cara

Paragraf sumber berikut rekaan untuk latihan. Anggap ini dari buku fiktif Menulis di Perguruan Tinggi karya Handayani (2021, hlm. 87):

"Mahasiswa tingkat akhir sering menunda penulisan bab pendahuluan karena menganggapnya sebagai bagian yang paling mudah. Akibatnya, rumusan masalah disusun terburu-buru dan tidak selaras dengan tujuan penelitian. Pembimbing kemudian meminta revisi berulang, sehingga waktu yang semula dihemat justru terpakai berkali lipat. Menyusun pendahuluan lebih awal, sambil terus memperbaikinya selama penelitian berjalan, terbukti lebih efisien."

Cara 1: kutipan langsung

Pilih hanya kalimat yang bunyinya perlu dipertahankan, dan beri tanda petik serta nomor halaman:

Handayani (2021) menegaskan bahwa "menyusun pendahuluan lebih awal, sambil terus memperbaikinya selama penelitian berjalan, terbukti lebih efisien" (hlm. 87).

Atau dengan sitasi di akhir kalimat:

Penyusunan pendahuluan yang dimulai lebih awal disebut "terbukti lebih efisien" (Handayani, 2021, hlm. 87).

Perhatikan bahwa kutipan ini pendek dan menempel ke kalimatmu sendiri. Kamu tidak menempelkan seluruh paragraf lalu berharap pembaca menyimpulkan sendiri.

Cara 2: parafrase

Semua gagasan dalam paragraf tetap ada (menunda, akibat pada rumusan masalah, revisi berulang, saran menyusun lebih awal), tetapi susunan dan kata-katanya baru:

Menurut Handayani (2021), banyak mahasiswa semester akhir mengira pendahuluan adalah bab yang ringan, lalu menggarapnya belakangan. Rumusan masalah yang lahir dari pengerjaan tergesa-gesa itu sering tidak sejalan dengan tujuan penelitian, sehingga pembimbing meminta perbaikan berkali-kali dan waktu yang tadinya dihemat malah habis. Karena itu, pendahuluan sebaiknya dirancang sejak awal dan disempurnakan seiring penelitian berjalan.

Panjangnya hampir sama dengan sumber. Struktur kalimat berubah, sumber disebut di depan, dan tidak ada tanda petik karena tidak ada kata yang disalin berurutan.

Cara 3: ringkasan

Hanya garis besar yang dibawa, dalam satu atau dua kalimat:

Handayani (2021) menyarankan agar pendahuluan skripsi disusun sejak awal karena menundanya mengakibatkan rumusan masalah yang tidak selaras dan revisi yang berulang.

Rincian seperti anggapan "bagian paling mudah" dan hitungan waktu yang terbuang hilang. Itu wajar pada ringkasan. Yang tidak boleh hilang adalah kesetiaan makna: sumber tidak mengatakan bahwa pendahuluan itu sulit, jadi ringkasan tidak boleh menyiratkannya.

Aturan kutipan langsung dan tidak langsung

Istilah dalam pelajaran bahasa Indonesia sering memakai pasangan "kutipan langsung" dan "kutipan tidak langsung". Dalam penulisan ilmiah pasangan itu bertemu dengan istilah gaya sitasi.

IstilahArtinyaContoh
Kutipan langsungKata-kata sumber disalin persis"Menyusun pendahuluan lebih awal ... terbukti lebih efisien" (Handayani, 2021, hlm. 87)
Kutipan tidak langsungIsi sumber disampaikan dengan kata-kata sendiri; dalam gaya sitasi disebut parafrase atau ringkasanHandayani (2021) menyarankan agar pendahuluan disusun sejak awal.
Sitasi sekunderKamu hanya membaca sumber A yang mengutip sumber B(Rahmat, 2015, dalam Handayani, 2021)

Beberapa kaidah untuk gaya APA edisi 7, yang dipakai atau menjadi dasar pedoman penulisan di banyak perguruan tinggi di Indonesia:

  1. Kutipan di bawah 40 kata masuk ke dalam kalimatmu dan diberi tanda petik. Sitasinya memuat nama penulis, tahun, dan nomor halaman (di teks berbahasa Indonesia umumnya ditulis "hlm.").
  2. Kutipan 40 kata atau lebih ditulis sebagai blok terpisah, menjorok dari margin kiri, tanpa tanda petik. Sitasi nomor halamannya ditaruh sesudah tanda baca akhir blok.
  3. Parafrase dan ringkasan memerlukan nama penulis dan tahun. Nomor halaman tidak wajib di APA 7, tetapi dianjurkan bila pembaca perlu menemukan bagian yang tepat dalam sumber panjang.
  4. Kata yang dihilangkan dari dalam kutipan ditandai tiga titik (...) dan tambahan dari penulis diapit kurung siku [ ]. Misalnya "terbukti [jauh] lebih efisien".
  5. Sitasi sekunder sebaiknya jarang dipakai. Cari dan baca sumber aslinya bila memungkinkan. Daftar pustaka hanya memuat sumber yang benar-benar kamu baca.

Pedoman kampus bisa menyimpang dari APA 7 dalam rincian, misalnya soal tempat nomor halaman atau penggunaan "dalam" pada sitasi sekunder. Pegang selalu buku pedoman penulisan skripsi di fakultasmu. Cara menyusun entri daftar pustakanya dibahas di cara menulis daftar pustaka APA 7, dan rincian sitasi untuk parafrase ada di cara menulis sitasi parafrase.

Tanda petik untuk kutipan menurut EYD Edisi V

Ejaan Yang Disempurnakan Edisi V (2022), acuan resmi ejaan dari Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa, mengatur tanda petik ganda dan tunggal. Untuk keperluan kutipan, pegangannya begini:

  • Tanda petik ganda ("...") mengapit petikan langsung, yaitu kata-kata orang lain yang dikutip persis, baik dari tuturan maupun dari tulisan.
  • Tanda petik tunggal ('...') mengapit petikan yang berada di dalam petikan lain.
  • Tanda petik juga dipakai untuk judul bagian tulisan atau istilah yang diberi arti khusus, tetapi itu soal berbeda dari kutipan.
  • Kutipan blok panjang di tulisan ilmiah tidak memakai tanda petik. Ia ditandai dengan paragraf menjorok, seperti aturan APA di atas.

Contoh petikan dalam petikan: Handayani (2021) menulis, "Pembimbing biasanya berkata, 'Perbaiki dulu rumusan masalahmu', sebelum membaca bab berikutnya."

Letak tanda baca penutup terhadap tanda petik punya kaidah rinci dalam EYD V. Saat menulis dengan sitasi APA, kebiasaan yang umum adalah menaruh sitasi dalam kurung sebelum titik akhir kalimat. Untuk naskah resmi, cocokkan dengan teks EYD V dan pedoman kampus. Soal kata baku dalam kutipanmu, biarkan kata sumber apa adanya bila memang kutipan langsung, sekalipun ejaannya tidak sesuai EYD V. Bila ada kekeliruan yang mencolok, tandai dengan [sic].

Kapan memakai yang mana

Pakai kutipan langsung bila:

  • bunyi kalimat itu sendiri yang penting: definisi dalam undang-undang, rumusan istilah dari kamus, atau pernyataan tokoh yang sedang kamu analisis;
  • kamu menganalisis cara penulis berbahasa, misalnya dalam telaah sastra;
  • parafrase berisiko mengubah makna, seperti pada pasal hukum.

Batasi jumlahnya. Tulisan yang separuhnya kutipan terdengar seperti rangkuman tempelan, dan penilai tidak dapat melihat pemahamanmu. Untuk menyitir undang-undang, lihat cara mengutip undang-undang dengan APA 7.

Pakai parafrase bila:

  • yang kamu perlukan adalah rincian argumen, data, atau langkah dari satu sumber;
  • kamu ingin gagasan itu mengalir mulus dengan nada tulisanmu;
  • sumbernya berbahasa lain dan kamu menerjemahkan lalu menulis ulang isinya. Sumber aslinya tetap disebut.

Pakai ringkasan bila:

  • pembaca hanya perlu tahu simpulan umum sebuah buku, bab, atau artikel;
  • kamu menyusun tinjauan pustaka dan perlu merangkum banyak sumber dalam beberapa kalimat;
  • kamu menulis abstrak atau ikhtisar. Untuk teknik meringkas, lihat cara meringkas teks.

Pada tinjauan pustaka, ketiganya hampir selalu muncul bergantian: ringkasan untuk garis besar, parafrase untuk argumen yang kamu andalkan, dan satu-dua kutipan langsung untuk rumusan penting.

Kesalahan yang sering terjadi

KesalahanMengapa bermasalahPerbaikan
Mengganti beberapa kata dengan sinonim lalu menyebutnya parafraseKerangka kalimat masih milik penulis asli (tambal sulam)Tutup sumber, tulis dari pemahamanmu, ubah susunan, lalu bandingkan
Meringkas tanpa sitasi karena "ini kan kata-kataku sendiri"Gagasannya tetap berasal dari sumberTambahkan penulis dan tahun
Menyalin satu-dua frasa khas dari sumber tanpa tanda petikBagian itu tetap dianggap salinanBeri tanda petik atau tulis ulang
Mengutip paragraf panjang tanpa komentarTidak ada analisis darimuKutip secukupnya, lalu jelaskan maknanya
Ringkasan yang menambah atau membalik klaim sumberMakna bergeserBaca ulang sumber, cocokkan setiap klaim
Nomor halaman hilang pada kutipan langsungPembaca tidak bisa memeriksaCatat halaman sejak awal mengutip
Mengutip dari skripsi atau makalah teman tanpa menyebutnyaTetap karya yang harus diakuiCantumkan dengan format skripsi di daftar pustaka

Perbedaan antara parafrase yang aman dan yang bermasalah dibahas lebih panjang di apakah parafrase termasuk plagiat, dan pengertian dasarnya di apa itu parafrase.

Memakai alat AdeptWrite untuk tiap cara

Alat hanya membantu pekerjaan mekanis. Pemahaman dan penyebutan sumber tetap tugasmu.

  • Meringkas: Peringkas Teks Online menyediakan tiga mode: Poin-poin, Paragraf, dan Satu kalimat. Tempel bagian sumber sampai 6.000 karakter dan pilih mode. Hasilnya draf. Bandingkan dengan sumber untuk memastikan hanya gagasan yang memang ada di teks yang tercantum, lalu tambahkan sitasi.
  • Memparafrase: Parafrase Online punya tujuh mode (Standar, Formal, Santai, Akademik, Kreatif, Ringkas, Panjangkan). Mode Akademik cocok sebagai titik awal untuk tulisan ilmiah. Baca hasilnya, perbaiki bila maknanya bergeser, dan tulis sitasinya.
  • Mengutip: Generator Daftar Pustaka menyusun sitasi dan daftar pustaka gaya APA 7, MLA 9, Chicago, Harvard, atau IEEE langsung di browser. Periksa hasilnya terhadap pedoman gaya yang berlaku untuk tugasmu.
  • Memeriksa kemiripan: Cek Plagiarisme membandingkan teks dengan sumber terbuka seperti Wikipedia dan jurnal akses terbuka, dan menampilkan sumber yang diperiksa. Minimal 30 kata dan maksimal 6.000 karakter per proses. Skor rendah berarti tidak ditemukan kemiripan di sumber yang dicari alat itu, bukan jaminan bahwa tulisanmu asli.
  • Merapikan ejaan: Cek Ejaan & Typo (EYD V) menandai kata tidak baku dengan membandingkannya dengan daftar kata baku AdeptWrite yang mengacu pada KBBI dan EYD V. Pakai pada tulisanmu sendiri, bukan pada kutipan langsung yang harus tetap utuh.

Daftar periksa sebelum mengumpulkan

  • Setiap kutipan langsung memakai tanda petik (atau format blok bila 40 kata atau lebih) dan nomor halaman.
  • Setiap parafrase dan ringkasan punya nama penulis dan tahun.
  • Parafrase tidak mengikuti kerangka kalimat sumber; ringkasan tidak menambah klaim yang tidak ada di sumber.
  • Kutipan langsung tidak mendominasi; setiap kutipan diikuti penjelasanmu.
  • Semua sumber dalam teks ada di daftar pustaka, dan sebaliknya.
  • Pedoman penulisan kampus atau penerbit sudah dibaca, terutama bila berbeda dari APA 7.
  • Tulisanmu sendiri sudah diperiksa ejaannya menurut KBBI dan EYD V.

Coba alatnya

Peringkas Teks Online
Ringkas artikel atau teks panjang menjadi poin inti.
Buka alat
Parafrase Online
Tulis ulang kalimat dalam 7 mode: Standar, Formal, Santai, Akademik, Kreatif, Ringkas, Panjangkan.
Buka alat
Generator Daftar Pustaka
Buat daftar pustaka dan sitasi dalam teks gaya APA 7, MLA 9, Chicago, Harvard, atau IEEE secara otomatis.
Buka alat
Cek Plagiarisme
Cari kemiripan teks dengan sumber terbuka seperti Wikipedia dan jurnal akses terbuka, lengkap dengan daftar sumber yang diperiksa.
Buka alat

Pertanyaan umum

Apa perbedaan utama ringkasan dan parafrase?

Ringkasan memendekkan sumber menjadi gagasan pokoknya, sedangkan parafrase menulis ulang satu gagasan dengan panjang yang kurang lebih sama beserta rinciannya. Keduanya memakai kata-katamu sendiri dan sama-sama wajib menyebut penulis dan tahun sumbernya.

Apakah ringkasan dan parafrase perlu sitasi?

Ya. Yang dilindungi bukan hanya kata-kata, tetapi juga gagasan, data, dan argumen. Karena itu ringkasan dan parafrase tetap harus mencantumkan penulis dan tahun, lalu sumbernya masuk ke daftar pustaka. Tanpa sitasi, keduanya dapat dinilai sebagai plagiat.

Kapan kutipan langsung ditulis sebagai blok terpisah?

Menurut APA edisi 7, kutipan 40 kata atau lebih ditulis sebagai blok yang menjorok dari margin kiri, tanpa tanda petik, dengan nomor halaman di akhir. Kutipan yang lebih pendek masuk ke dalam kalimat dan diapit tanda petik ganda. Cek juga pedoman kampusmu.

Bagaimana tanda petik pada kutipan menurut EYD Edisi V?

Tanda petik ganda mengapit petikan langsung, dan tanda petik tunggal mengapit petikan di dalam petikan. Kutipan blok panjang di tulisan ilmiah tidak memakai tanda petik, melainkan paragraf menjorok. Untuk penempatan tanda baca penutup, cocokkan dengan teks EYD V.

Semua panduan