Teks Negosiasi: Struktur, Kaidah Kebahasaan, dan Contoh Dialog
Teks negosiasi adalah teks yang memuat proses tawar-menawar antara dua pihak atau lebih untuk mencapai kesepakatan. Strukturnya terdiri atas orientasi, pengajuan, penawaran, persetujuan, dan penutup. Cirinya kalimat persuasif yang santun, kata modalitas seperti dapat dan bersedia, serta kalimat tanya dan pernyataan yang saling bersahutan hingga kedua pihak sepakat.
Jawaban singkat: apa itu teks negosiasi
Teks negosiasi adalah teks yang menuliskan proses tawar-menawar dua pihak atau lebih yang berbeda kepentingan, dengan tujuan mencapai kesepakatan yang tidak merugikan siapa pun. Bentuknya biasanya dialog. Contoh yang paling dekat dengan kita: pembeli dan penjual batik di pasar yang sepakat pada satu harga, atau karyawan dan atasan yang sepakat memindahkan tenggat laporan.
Di sekolah, teks negosiasi dipelajari sebagai salah satu jenis teks pada mata pelajaran Bahasa Indonesia. Soal yang muncul biasanya meminta kamu mengenali struktur, menemukan kalimat persuasif, atau menyusun dialog sendiri. Panduan ini membahas ketiganya dengan contoh yang bisa langsung kamu pelajari.
Struktur teks negosiasi: lima tahap
Urutan berikut lazim dipakai pada buku pelajaran dan soal ujian. Nama tahap bisa sedikit berbeda antarpenerbit, jadi cocokkan dengan buku pegangan gurumu.
| Tahap | Isi | Tanda yang mudah dikenali |
|---|---|---|
| Orientasi | Pembukaan: salam, perkenalan, penyebutan topik yang akan dibicarakan | Sapaan dan kalimat seperti "Saya ingin menanyakan..." |
| Pengajuan | Salah satu pihak menyampaikan permintaan atau penawaran awal | Harga, jumlah, waktu, atau syarat pertama disebut |
| Penawaran | Kedua pihak saling menawar, memberi alasan, dan mencari titik temu | Kata "bagaimana kalau", "kalau begitu", "kurangi sedikit" |
| Persetujuan | Kedua pihak menyatakan sepakat | Kalimat "Baik, kita sepakat", "Setuju" |
| Penutup | Mengakhiri pembicaraan dengan ucapan terima kasih atau tindak lanjut | "Terima kasih", "Senang bekerja sama" |
Perhatikan bahwa tahap penawaran bisa berulang beberapa kali sebelum persetujuan tercapai. Jika sebuah dialog berakhir tanpa kesepakatan, tetap ada negosiasi, tetapi hasilnya gagal. Soal sekolah hampir selalu memakai contoh yang berhasil.
Ciri dan kaidah kebahasaan
Ciri kebahasaan inilah yang paling sering ditanyakan pada soal. Ringkasannya:
- Kalimat persuasif. Kalimat yang membujuk lawan bicara tanpa memaksa, misalnya "Kalau Bapak ambil tiga potong, kami beri harga lebih murah."
- Kata modalitas. Kata yang menyatakan kemampuan, kesediaan, atau kemungkinan: dapat, bisa, mau, bersedia, sebaiknya, mungkin.
- Kalimat tanya yang santun. Dipakai untuk menggali kepentingan lawan bicara: "Apakah pengiriman bisa dilakukan hari Jumat?"
- Kalimat deklaratif dan imperatif halus. Pernyataan alasan serta ajakan: "Harga itu sudah termasuk ongkos kirim" dan "Mari kita cari jalan tengah."
- Konjungsi pertentangan dan syarat. Tetapi, namun, kalau, jika, asalkan, sehingga, yang menghubungkan tawaran dengan syarat.
- Kata sapaan dan ungkapan hormat. Bapak, Ibu, Kak, Pak, serta mohon, silakan, terima kasih.
- Istilah sesuai topik. Negosiasi jual beli memakai kata harga, diskon, ongkos kirim; negosiasi kerja memakai tenggat, gaji, kontrak, lembur.
Pada dialog tertulis, tanda baca ikut penting. Nama penutur diikuti titik dua, ucapan diawali huruf kapital, dan setiap ucapan diakhiri tanda baca yang sesuai. Aturan huruf kapital dan tanda baca mengikuti Ejaan Bahasa Indonesia Edisi V; lihat tanda baca EYD V dan aturan huruf kapital.
Contoh 1: negosiasi di pasar
Berikut dialog jual beli kain batik di sebuah pasar. Nama dan harga hanya rekaan untuk latihan.
Tokoh: Bu Sari (pembeli) dan Pak Joko (penjual)
Bu Sari: Selamat siang, Pak. Saya mau melihat kain batik yang di rak depan itu.
Pak Joko: Selamat siang, Bu. Silakan. Ini batik tulis motif parang, harganya Rp350.000 per lembar.
Bu Sari: Wah, bagus sekali motifnya. Tetapi harganya agak berat untuk saya, Pak. Bagaimana kalau Rp250.000?
Pak Joko: Belum bisa, Bu. Ini dikerjakan tangan hampir dua minggu. Kalau Rp320.000, saya masih bisa.
Bu Sari: Kalau saya ambil tiga lembar sekaligus, apakah Bapak bersedia memberi harga Rp280.000 per lembar?
Pak Joko: Tiga lembar ya, Bu. Baiklah, Rp295.000 per lembar, dan saya bungkuskan gratis.
Bu Sari: Rp290.000, Pak, lalu kita sepakat.
Pak Joko: Baik, Bu, setuju. Rp290.000 untuk tiga lembar.
Bu Sari: Terima kasih, Pak. Saya senang berbelanja di sini.
Pak Joko: Sama-sama, Bu. Silakan datang lagi.
Pembedahan strukturnya:
- Orientasi: dua ucapan pertama (salam dan menyatakan keperluan).
- Pengajuan: Pak Joko menyebut harga awal Rp350.000.
- Penawaran: tawaran Rp250.000, Rp320.000, Rp280.000, Rp295.000, dan Rp290.000 saling bersahutan.
- Persetujuan: "Baik, Bu, setuju."
- Penutup: ucapan terima kasih dan ajakan datang lagi.
Kalimat persuasifnya: "Kalau saya ambil tiga lembar sekaligus, apakah Bapak bersedia memberi harga Rp280.000 per lembar?" Kata modalitasnya: bisa, bersedia, mau. Perhatikan juga bahwa penawar tidak sekadar menurunkan harga. Ia menukar jumlah pembelian dengan potongan, dan penjual menukar potongan dengan bungkus gratis. Itulah inti negosiasi yang baik: setiap pihak memberi sesuatu.
Contoh 2: negosiasi di kantor
Negosiasi kerja lebih formal. Contoh berikut tentang perpanjangan tenggat laporan.
Tokoh: Rina (staf pemasaran) dan Pak Hendra (manajer)
Rina: Selamat pagi, Pak. Apakah Bapak punya waktu lima menit? Saya ingin membicarakan tenggat laporan kampanye.
Pak Hendra: Pagi, Rina. Silakan. Ada kendala apa?
Rina: Data penjualan dari cabang baru lengkap hari Rabu, Pak. Padahal laporan dijadwalkan masuk hari Selasa. Apakah tenggatnya dapat diundur sampai Kamis siang?
Pak Hendra: Kamis agak terlambat. Rapat dengan direksi hari Kamis pukul 10.00. Saya butuh laporannya sebelum itu.
Rina: Kalau begitu, bagaimana jika Rabu sore saya kirim ringkasan hasil utama lebih dahulu, lalu laporan lengkapnya Kamis pukul 08.00?
Pak Hendra: Itu masih bisa saya terima, asalkan ringkasannya sudah memuat angka penjualan dan perbandingannya dengan bulan lalu.
Rina: Baik, Pak. Ringkasan memuat dua hal itu. Jadi kita sepakat: ringkasan Rabu pukul 16.00, laporan lengkap Kamis pukul 08.00.
Pak Hendra: Sepakat. Tolong kirim lewat email dan tembuskan ke tim keuangan.
Rina: Siap, Pak. Terima kasih atas pengertiannya.
Di sini kesepakatan diulang oleh Rina ("Jadi kita sepakat: ..."). Kebiasaan merangkum hasil di akhir sangat berguna di dunia kerja, karena menghindari salah paham. Bila hasilnya penting, tulis ulang dalam email singkat; panduan etika menulis email kerja membahas cara menuliskannya.
Perbandingan dua contoh
| Aspek | Pasar | Kantor |
|---|---|---|
| Ragam bahasa | Semi-baku, akrab | Baku, hormat |
| Objek yang ditawar | Harga | Waktu dan isi pekerjaan |
| Bentuk kompromi | Jumlah beli ditukar potongan | Ringkasan lebih awal ditukar tenggat mundur |
| Cara menutup | Ucapan terima kasih | Merangkum kesepakatan dan menentukan tindak lanjut |
Langkah menulis teks negosiasi sendiri
- Tentukan dua tokoh dan kepentingannya. Pembeli ingin murah, penjual ingin untung. Tulis dulu di catatan.
- Tentukan topik dan angka awal. Harga, jumlah, atau waktu awal harus jelas.
- Tulis orientasi singkat. Satu atau dua ucapan sudah cukup.
- Buat tiga sampai lima putaran penawaran. Tiap putaran memuat alasan, bukan hanya angka.
- Selipkan kata modalitas dan kalimat persuasif. Minimal satu per putaran.
- Akhiri dengan persetujuan dan penutup. Ulangi isi kesepakatan satu kali.
- Periksa ejaan dan tanda baca. Cek nama tokoh, tanda titik dua, serta tanda petik bila memakai kutipan.
Kesalahan yang sering terjadi
- Dialog tanpa alasan. Penawar hanya menyebut angka tanpa menjelaskan mengapa. Tambahkan alasan seperti kualitas, jumlah, atau waktu.
- Salah mengenali tahap. Kalimat harga awal dikira penawaran. Padahal penyebutan harga awal masuk pengajuan.
- Bahasa terlalu kasar atau memaksa. Kalimat "Pokoknya harus segitu!" bukan kalimat persuasif.
- Kesepakatan tidak jelas. Dialog berhenti tanpa pernyataan setuju.
- Tidak konsisten dengan ragam bahasa. Dialog kantor dicampur kata gaul sehingga tidak sesuai situasi.
- Salah tulis kata tidak baku, misalnya "nego" untuk "negosiasi" pada teks formal, atau "ngga" untuk "tidak". Bandingkan dengan daftar kata baku dan tidak baku. Kata "negosiasi" sendiri dapat dicek di KBBI daring.
Perbedaan dengan teks lain
Teks negosiasi sering tertukar dengan teks persuasi dan teks argumentasi. Perbedaan praktisnya: teks negosiasi adalah interaksi dua arah dengan hasil kesepakatan; teks persuasi satu arah mengajak pembaca bertindak; teks argumentasi mempertahankan pendapat dengan alasan dan bukti. Karena bentuknya dialog, teks negosiasi juga berdekatan dengan teks anekdot yang memakai kalimat langsung, tetapi tujuannya berbeda.
Memakai alat AdeptWrite untuk latihan
Alat berikut hanya membantu memeriksa dan merapikan tulisanmu; isi dialognya tetap karya kamu.
- Cek Ejaan & Typo (EYD V) menandai salah ketik dan kata tidak baku dengan mencocokkannya pada KBBI dan EYD V. Hasilnya saran, jadi tetap putuskan sendiri, terutama pada dialog yang memang sengaja santai.
- Cek Grammar Bahasa Indonesia menandai kalimat yang janggal atau tanda baca yang salah. Ia perkiraan, bukan vonis.
- Perbaiki Kalimat membantu merapikan kalimat yang kaku atau berbelit. Bandingkan hasilnya dengan versi aslimu sebelum dipakai.
- Ubah Nada Formal ↔ Santai berguna untuk melihat bagaimana ucapan yang sama terdengar di pasar dan di kantor. Batas satu kali proses di AdeptWrite adalah 6.000 karakter, cukup untuk dialog tugas sekolah.
Daftar periksa sebelum dikumpulkan
- Ada dua tokoh atau lebih dengan kepentingan yang berbeda.
- Kelima tahap muncul dengan urutan yang benar.
- Ada alasan di setiap putaran penawaran.
- Kalimat persuasif dan kata modalitas terlihat jelas.
- Kesepakatan dinyatakan eksplisit dan diulang.
- Ragam bahasa sesuai tempat (pasar atau kantor).
- Nama tokoh, titik dua, dan huruf kapital sudah rapi.
- Tidak ada kata tidak baku yang tidak disengaja.
- Angka dan satuan konsisten, misalnya Rp290.000 ditulis dengan titik pemisah ribuan.
- Dialog sudah dibaca keras-keras sekali untuk menguji kewajaran.
Coba alatnya
Pertanyaan umum
Apa saja struktur teks negosiasi?
Strukturnya terdiri atas orientasi, pengajuan, penawaran, persetujuan, dan penutup. Orientasi membuka pembicaraan, pengajuan memuat permintaan awal, penawaran berisi tawar-menawar, persetujuan menyatakan kesepakatan, dan penutup mengakhiri dialog. Nama tahap bisa sedikit berbeda antarbuku, jadi sesuaikan dengan buku pegangan gurumu.
Apa ciri kebahasaan teks negosiasi?
Cirinya meliputi kalimat persuasif, kata modalitas seperti dapat dan bersedia, kalimat tanya yang santun, konjungsi pertentangan dan syarat, kata sapaan hormat, serta istilah sesuai topik. Ragam bahasa menyesuaikan situasi: semi-baku di pasar, baku di kantor.
Apa perbedaan teks negosiasi dan teks persuasi?
Teks negosiasi adalah interaksi dua arah antarpihak yang berakhir pada kesepakatan, biasanya berbentuk dialog. Teks persuasi bersifat satu arah, yaitu penulis mengajak atau membujuk pembaca agar mau melakukan sesuatu tanpa perlu ada tawar-menawar dari pihak lain.
Apakah teks negosiasi harus berakhir dengan kesepakatan?
Dalam kehidupan nyata negosiasi bisa gagal. Namun pada pelajaran Bahasa Indonesia, contoh dan soalnya hampir selalu berakhir dengan persetujuan agar tahap persetujuan bisa dikenali. Jika gurumu tidak menentukan lain, buat dialog yang berakhir sepakat.
Panduan terkait
- Teks Persuasi: Pengertian, Struktur, Ciri Kebahasaan, dan Contoh Lengkap — Teks persuasi adalah teks yang bertujuan membujuk pembaca agar mau melakukan atau meyakini sesuatu. Strukturnya lazim te…
- Teks Argumentasi dan Esai Argumentatif: Struktur, Kata Penghubung, dan Contoh Lengkap — Teks argumentasi adalah tulisan yang membuktikan satu pendapat dengan alasan dan bukti. Strukturnya lazim berupa tesis (…
- Teks Anekdot: Pengertian, Struktur, Ciri Kebahasaan, dan Contoh dengan Sindirannya — Teks anekdot adalah cerita singkat yang lucu dan menarik tentang peristiwa nyata atau rekaan, dengan maksud menyampaikan…
- Etika Menulis Email Kerja: 20 Aturan dan Contoh untuk Kantor Indonesia — Etika email kerja berpegang pada tiga hal: hormati waktu penerima, sesuaikan sapaan dengan hierarki, dan buat isi mudah …
- Daftar Kata Baku dan Tidak Baku Menurut KBBI dan EYD V — Kata baku adalah kata yang ejaannya sesuai KBBI dan EYD V; kata tidak baku menyimpang dari keduanya, misalnya aktifitas,…