Struktur Kalimat (SPOK): Cara Menemukan Subjek, Predikat, Objek, dan Keterangan
Struktur kalimat bahasa Indonesia tersusun dari unsur fungsi: subjek (S), predikat (P), objek (O), pelengkap (Pel), dan keterangan (K). Subjek dan predikat wajib ada. Halaman ini mengajarkan cara menemukan tiap unsur dengan pertanyaan penguji, enam pola dasar kalimat, sebab subjek hilang setelah kata depan, dan latihan lengkap dengan kunci jawaban.
Jawaban singkat: apa itu struktur kalimat?
Struktur kalimat adalah susunan unsur-unsur fungsi dalam kalimat. Dalam tata bahasa baku bahasa Indonesia, unsur itu ada lima: subjek (S), predikat (P), objek (O), pelengkap (Pel), dan keterangan (K). Hanya subjek dan predikat yang wajib ada pada hampir semua kalimat. Tiga unsur lain muncul sesuai kebutuhan makna dan jenis verbanya. Itulah sebabnya pelajaran ini sering disebut SPOK.
Contoh paling pendek:
Adik (S) tidur (P).
Contoh dengan kelima unsur dalam satu kalimat:
Kakak (S) mengirimi (P) saya (O) buku (Pel) kemarin sore (K).
Uraian di halaman ini mengikuti istilah dan pola dalam Tata Bahasa Baku Bahasa Indonesia yang disusun Alwi dan kawan-kawan, rujukan yang lazim dipakai guru dan dosen. Ejaan dan pilihan kata mengacu pada EYD Edisi V (2022) dan KBBI VI daring dari Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa, Kemendikdasmen. Semua kalimat contoh rekaan untuk latihan. Kalau kamu ingin langsung memeriksa kalimat sendiri, salin ke Perbaiki Kalimat atau Cek Grammar Bahasa Indonesia; cara memakainya ada di bagian akhir.
Lima unsur kalimat dalam satu tabel
| Unsur | Pertanyaan penguji | Ciri utama | Contoh |
|---|---|---|---|
| Subjek (S) | Siapa atau apa yang dibicarakan? | Biasanya nomina atau frasa nomina; tidak didahului kata depan | Petani menanam padi. |
| Predikat (P) | Apa yang dilakukan atau bagaimana keadaan S? | Biasanya verba atau adjektiva; bisa pula nomina, numeralia, atau frasa depan | Petani menanam padi. |
| Objek (O) | Siapa atau apa yang dikenai pekerjaan? | Langsung di belakang predikat transitif; bisa menjadi subjek kalimat pasif | Petani menanam padi. |
| Pelengkap (Pel) | Apa yang melengkapi predikat? | Wajib, di belakang predikat, tidak bisa menjadi subjek kalimat pasif | Ayah berprofesi guru. |
| Keterangan (K) | Kapan, di mana, bagaimana, mengapa? | Opsional, posisinya bebas, sering diawali kata depan | Petani menanam padi di sawah. |
Cara menemukan subjek dan predikat
Kebanyakan siswa menemukan unsur kalimat dengan menebak. Cara yang lebih andal adalah mencari predikat dulu, lalu bertanya ke arah subjek.
- Cari predikat. Predikat adalah bagian yang menyatakan perbuatan, keadaan, jati diri, atau jumlah. Cari verba atau adjektiva yang menjadi inti kalimat. Dalam Kepala sekolah membuka acara itu, predikatnya membuka.
- Tanya subjek. Susun pertanyaan Siapa atau apa yang + predikat? Jawabannya subjek: Siapa yang membuka acara itu? Kepala sekolah.
- Tanya objek. Susun pertanyaan Predikat + siapa atau apa? Jawabannya objek: Membuka apa? Acara itu.
- Tanya keterangan. Sisanya diuji dengan kapan, di mana, bagaimana, dengan apa, mengapa. Jawabannya keterangan.
Kalimat yang predikatnya bukan verba tetap punya struktur yang sama:
- Ayah saya guru. S = Ayah saya, P = guru (nomina).
- Rumah itu sangat besar. S = Rumah itu, P = sangat besar (adjektiva).
- Anaknya tiga. S = Anaknya, P = tiga (numeralia).
- Kakak di perpustakaan. S = Kakak, P = di perpustakaan (frasa depan).
Satu kebiasaan yang perlu dibuang: menganggap kata pertama kalimat sebagai subjek. Dalam Kemarin saya membeli sepatu, kata pertamanya kemarin, yaitu keterangan waktu, sedangkan subjeknya saya. Keterangan boleh berpindah, tetapi subjek ditentukan oleh hubungannya dengan predikat, bukan oleh letaknya.
Objek, pelengkap, dan keterangan: bagaimana membedakannya
Tiga unsur ini paling sering dipertukarkan. Tiga ujian berikut cukup untuk memisahkannya.
Ujian pasif. Objek bisa berpindah menjadi subjek kalimat pasif. Pelengkap tidak bisa.
- Petani menanam padi. menjadi Padi ditanam petani. Jadi padi adalah objek.
- Ayah berprofesi guru. tidak bisa menjadi Guru diprofesikan ayah. Jadi guru adalah pelengkap.
Ujian wajib. Keterangan boleh dibuang tanpa merusak kalimat. Pelengkap tidak boleh dibuang.
- Petani menanam padi di sawah. Kalau di sawah dibuang, kalimat tetap utuh. Jadi di sawah adalah keterangan.
- Ia merupakan juara kelas. Kalau juara kelas dibuang, kalimat terasa menggantung. Jadi juara kelas adalah pelengkap.
Ujian posisi. Keterangan bisa berpindah ke depan atau ke tengah kalimat. Objek dan pelengkap melekat di belakang predikat.
- Di sawah petani menanam padi. tetap benar.
- Padi petani menanam. tidak lazim.
Hati-hati dengan verba yang membuat sebagian orang ragu. Verba seperti berlari, bermain, dan berjalan biasanya diikuti keterangan, bukan objek. Verba seperti menjadi, merupakan, berupa, berbentuk biasanya diikuti pelengkap: Kegiatan itu berupa lomba cerdas cermat. Dalam kalimat ini lomba cerdas cermat adalah pelengkap.
Enam pola dasar kalimat
Kalimat tunggal dasar dalam bahasa Indonesia dapat dikelompokkan ke dalam enam pola berikut, sesuai uraian tata bahasa baku. Pola ini berlaku untuk urutan lazim kalimat aktif.
| No. | Pola | Contoh | Catatan |
|---|---|---|---|
| 1 | S-P | Bayi itu (S) menangis (P). | Predikat intransitif, tanpa objek |
| 2 | S-P-O | Dosen (S) menilai (P) makalah (O). | Predikat transitif |
| 3 | S-P-Pel | Adik (S) berjualan (P) kue (Pel). | Pelengkap wajib, tidak bisa dipasifkan |
| 4 | S-P-K | Rapat (S) berlangsung (P) di aula (K). | Keterangan yang melengkapi makna predikat |
| 5 | S-P-O-Pel | Ibu (S) membelikan (P) adik (O) sepatu (Pel). | Dua unsur sesudah predikat |
| 6 | S-P-O-K | Panitia (S) membagikan (P) kupon (O) di pintu masuk (K). | Objek lalu keterangan |
Pola ini dapat dikembangkan dengan menambah keterangan di awal, tengah, atau akhir, tanpa mengubah pola intinya. Kemarin sore panitia membagikan kupon di pintu masuk. tetap berpola S-P-O-K; tambahan kemarin sore hanyalah keterangan waktu.
Mengapa kalimat yang dibuka "Bagi", "Untuk", atau "Di dalam" kehilangan subjek
Inilah kesalahan struktur yang paling sering dikoreksi dosen dan guru. Kata depan (preposisi) membuat frasa sesudahnya menjadi keterangan. Keterangan tidak bisa menjadi subjek. Akibatnya kalimat yang hanya terdiri atas frasa depan dan predikat tidak punya subjek.
| Tidak tepat | Mengapa | Perbaikan |
|---|---|---|
| Bagi siswa kelas XII wajib mengikuti ujian praktik. | Bagi siswa kelas XII keterangan; tidak ada S | Siswa kelas XII wajib mengikuti ujian praktik. |
| Di dalam laporan ini memuat hasil survei. | Di dalam laporan ini keterangan; tidak ada S | Laporan ini memuat hasil survei. |
| Untuk pendaftaran dibuka mulai Senin. | Untuk pendaftaran keterangan; tidak ada S | Pendaftaran dibuka mulai Senin. |
| Dengan membaca setiap hari meningkatkan kosakata. | Dengan membaca setiap hari keterangan; tidak ada S | Membaca setiap hari meningkatkan kosakata. |
| Pada zaman sekarang menuntut keterampilan digital. | Pada zaman sekarang keterangan; tidak ada S | Zaman sekarang menuntut keterampilan digital. |
Ada dua cara memperbaiki: buang kata depannya agar frasa itu menjadi subjek, atau pertahankan kata depannya dan tambahkan subjek baru di belakang. Kalimat pertama tadi bisa menjadi Bagi siswa kelas XII, panitia mewajibkan ujian praktik. Pilih cara yang menjaga makna sesuai maksudmu. Pembahasan lebih luas tentang kesalahan semacam ini ada di contoh kalimat efektif dan tidak efektif dan kalimat rancu.
Satu jebakan lain: kata yang membuat klausa relatif, bukan predikat. Mahasiswa yang rajin membaca di perpustakaan belum kalimat karena belum ada predikat utama. Tambahkan predikat: Mahasiswa yang rajin membaca di perpustakaan itu lulus tepat waktu.
Kalimat aktif dan pasif mengubah letak unsur
Ketika kalimat aktif diubah menjadi pasif, objek menjadi subjek dan subjek lama menjadi pelaku sesudah kata oleh (boleh dibuang).
| Aktif | Pasif |
|---|---|
| Petani (S) menanam (P) padi (O). | Padi (S) ditanam (P) petani (pelaku). |
| Guru (S) mengumumkan (P) hasil ujian (O). | Hasil ujian (S) diumumkan (P) oleh guru. |
Hanya kalimat dengan objek yang bisa dipasifkan. Pola S-P dan S-P-Pel tidak punya objek, jadi tidak punya bentuk pasif yang wajar. Selengkapnya ada di panduan kalimat aktif dan pasif.
Dari kalimat tunggal ke kalimat majemuk: gambaran singkat
Semua contoh di atas berpola satu klausa, yaitu kalimat tunggal. Kalau dua klausa atau lebih digabung, hasilnya kalimat majemuk:
- Majemuk setara: klausa sederajat, dihubungkan dan, tetapi, atau, lalu. Ibu memasak, dan ayah membersihkan halaman. Tiap klausa punya S dan P sendiri.
- Majemuk bertingkat: satu klausa inti dan satu klausa bawahan, dihubungkan karena, jika, meskipun, ketika, bahwa. Kami pulang lebih awal karena hujan turun deras.
Cara menandai batas klausa, memakai koma, dan memilih kata hubung dibahas khusus di kalimat majemuk setara dan kalimat majemuk bertingkat. Untuk sekarang, pegang satu prinsip: setiap klausa membutuhkan subjek dan predikat sendiri, kecuali subjeknya sama dan dilesapkan secara wajar, seperti dalam Ibu pulang dan langsung memasak.
Kesalahan yang sering terjadi
- Subjek hilang setelah kata depan. Dalam penelitian ini menggunakan metode survei. Perbaikan: Penelitian ini menggunakan metode survei.
- Predikat hilang. Kebijakan baru yang diumumkan kepala dinas minggu lalu. Tambahkan predikat: Kebijakan baru yang diumumkan kepala dinas minggu lalu mulai berlaku.
- Subjek ganda. Pemerintah daerah mereka sudah menyiapkan anggaran. Pilih satu: Pemerintah daerah sudah menyiapkan anggaran.
- Keterangan dianggap objek. Dia berangkat ke Bandung tidak berobjek; ke Bandung adalah keterangan tempat.
- Pelengkap diperlakukan sebagai objek pasif. Guru diprofesikan ayah janggal karena guru pelengkap.
- Kalimat berhenti pada anak kalimat. Karena hujan turun sejak subuh. tidak berdiri sendiri. Gabungkan dengan induk kalimat: Karena hujan turun sejak subuh, upacara dipindahkan ke aula.
- Kata penghubung dipakai sebagai pembuka kalimat tanpa induk. Sehingga laporan terlambat. adalah anak kalimat tanpa induk.
Struktur kalimat di sekolah, kampus, dan kantor
Ujian sekolah. Soal bahasa Indonesia di SMP dan SMA biasanya meminta siswa menentukan unsur kalimat, memilih pola kalimat, atau menunjuk kalimat yang tidak memiliki subjek. Strategi yang aman: tandai predikat lebih dulu, lalu tanya subjek. Hafalkan juga ciri pelengkap: wajib dan tidak bisa menjadi subjek pasif.
Skripsi dan karya ilmiah. Dosen pembimbing paling sering menandai kalimat yang diawali Dalam, Pada, atau Bagi tanpa subjek, serta kalimat yang terlalu panjang sehingga predikatnya hilang. Cetak satu bab, lingkari predikat utama di setiap kalimat, dan periksa apakah subjeknya jelas. Kalimat yang tidak memiliki predikat utama mudah ditemukan dengan cara ini.
Surat dan email kantor. Pembuka seperti Sehubungan dengan permohonan Bapak sering berhenti tanpa induk kalimat. Pastikan setelah frasa pembuka ada subjek dan predikat: Sehubungan dengan permohonan Bapak, kami memberitahukan bahwa jadwal pelatihan telah ditetapkan. Panduan cara menulis email profesional membahas pola kalimat yang ringkas untuk surat kerja.
Latihan dan kunci jawaban
Bagian A. Tentukan unsur kalimat. Beri label S, P, O, Pel, atau K pada bagian yang dicetak tebal.
- Para siswa membersihkan kelas.
- Kakak membelikan adik boneka.
- Pak Rudi bekerja di kantor pos.
- Besok pagi kami berangkat ke Yogyakarta.
- Ibu memotong sayur dengan pisau tajam.
- Kakek saya pensiunan guru.
- Perpustakaan itu menyediakan ruang diskusi.
- Mereka berdiskusi di halaman belakang.
Bagian B. Perbaiki kalimat yang subjeknya hilang.
- Bagi pemohon beasiswa harus melampirkan transkrip nilai.
- Dalam pidato itu mengandung ajakan menjaga lingkungan.
- Untuk pengumpulan tugas dilakukan melalui portal kampus.
- Pada musim kemarau menyebabkan sumur warga mengering.
Bagian C. Tentukan pola kalimat.
- Bendungan itu jebol.
- Pemerintah desa membangun jembatan baru.
- Ayah memberi saya hadiah.
- Konser berlangsung di lapangan kota.
Kunci jawaban.
- S. 2. O (objek adik; pelengkapnya boneka). 3. K (keterangan tempat). 4. K. 5. K. 6. P (nomina). 7. O. 8. K.
- Pemohon beasiswa harus melampirkan transkrip nilai.
- Pidato itu mengandung ajakan menjaga lingkungan.
- Pengumpulan tugas dilakukan melalui portal kampus.
- Musim kemarau menyebabkan sumur warga mengering.
- S-P. 14. S-P-O. 15. S-P-O-Pel. 16. S-P-K.
Bila buku ajar atau gurumu menggolongkan unsur tertentu secara berbeda, utamakan pedoman yang diajarkan di kelasmu.
Memakai alat AdeptWrite untuk memeriksa struktur kalimat
AdeptWrite tidak mengubah aturan tata bahasa, tetapi beberapa alatnya membantu menyunting:
- Perbaiki Kalimat merapikan kalimat yang rancu atau berbelit dalam mode Standar atau Formal. Tempel kalimat yang subjeknya hilang dan lihat usulan tulis ulangnya. Hasilnya usulan; baca ulang dan pastikan maknanya tidak bergeser.
- Cek Grammar Bahasa Indonesia memeriksa tata bahasa, ejaan, dan tanda baca, dan perubahannya ditandai. Karena hasilnya dibuat oleh model AI, putuskan sendiri perbaikan mana yang dipakai.
- Cek Ejaan & Typo (EYD V) mencocokkan kata dengan KBBI dan EYD V langsung di browser, berguna setelah struktur kalimat beres.
- Parafrase Online menulis ulang teks dalam beberapa mode, termasuk Akademik. Batasnya 6.000 karakter per proses.
Batas teks dan ketersediaan mode dapat berubah; yang berlaku adalah keterangan di halaman tiap alat.
Ringkasan cepat
- Lima unsur: S, P, O, Pel, K. Wajib: S dan P.
- Cari predikat dulu, lalu tanya subjek dengan siapa atau apa yang.
- Objek bisa menjadi subjek pasif; pelengkap tidak bisa; keterangan bebas berpindah dan boleh dibuang.
- Enam pola: S-P, S-P-O, S-P-Pel, S-P-K, S-P-O-Pel, S-P-O-K.
- Kalimat yang dibuka Bagi, Untuk, Dalam, atau Pada tanpa subjek baru kehilangan subjeknya.
- Setiap klausa dalam kalimat majemuk memerlukan S dan P sendiri.
Coba alatnya
Pertanyaan umum
Apa saja unsur struktur kalimat dalam bahasa Indonesia?
Ada lima unsur fungsi: subjek, predikat, objek, pelengkap, dan keterangan. Subjek dan predikat wajib ada pada hampir semua kalimat, sedangkan objek, pelengkap, dan keterangan muncul sesuai jenis predikat dan kebutuhan makna. Contohnya, Petani menanam padi di sawah berpola S-P-O-K.
Bagaimana cara menemukan subjek dalam kalimat?
Cari predikatnya terlebih dahulu, yaitu verba atau adjektiva yang menjadi inti kalimat. Lalu ajukan pertanyaan siapa atau apa yang diikuti predikat itu. Jawabannya subjek. Subjek tidak didahului kata depan seperti di, pada, untuk, dan bagi, karena frasa berkata depan menjadi keterangan.
Apa bedanya objek, pelengkap, dan keterangan?
Objek berada di belakang predikat transitif dan bisa menjadi subjek kalimat pasif. Pelengkap juga wajib di belakang predikat, tetapi tidak bisa menjadi subjek pasif. Keterangan opsional, boleh dibuang, dan posisinya bebas. Ujian pasif dan ujian buang membantu membedakannya.
Mengapa kalimat yang diawali kata Bagi atau Untuk dianggap salah?
Kata depan membuat frasa sesudahnya menjadi keterangan, sedangkan keterangan tidak dapat menjadi subjek. Kalau tidak ada subjek lain, kalimat itu cacat. Perbaikannya dengan membuang kata depan agar frasa menjadi subjek, atau menambahkan subjek baru setelah frasa depan.
Panduan terkait
- Kalimat Aktif dan Pasif Bahasa Indonesia: di-, ter-, Pasif Persona, dan Cara Mengubahnya — Pada kalimat aktif, subjek melakukan pekerjaan dan verbanya biasanya berawalan meN- (Ibu membaca buku). Pada kalimat pas…
- Kalimat Rancu (Kontaminasi): Contoh dan Cara Memperbaikinya — Kalimat rancu adalah kalimat yang susunan atau pilihan katanya kacau sehingga maknanya kabur atau salah dibaca. Penyebab…
- 50+ Contoh Kalimat Efektif dan Tidak Efektif (Lengkap dengan Perbaikannya) — Kalimat efektif adalah kalimat yang pesannya sampai ke pembaca tepat seperti yang dimaksud penulis. Ia memenuhi lima sya…